Pemimpin Masa Depan?

May 02, 2018


Ada fenomena menarik yang tersisip dalam peristiwa persiapan pemilihan presiden dan wakil presiden pada tahun 2019 nanti: munculnya tokoh-tokoh muda calon pemimpin masa depan. Ada tokoh seperti Muhaimin Iskandar, Romahurmuziy, Anis Matta, sampai Agus Harimurti Yudhoyono.

Baliho wajah tokoh-tokoh tersebut sudah banyak tampil di mana-mana. Saya melihat rerata gaya yang hendak mereka tampilkan adalah youth (kekinian). Gaya muda ini dapat dilihat dari baliho ketua umum PPP, Romahurmuziy (Gus Romy), yang saya potret di sebuah jalan propinsi.


Gaya kekinian baliho itu tampak pada pemilihan bahan jeans pada celana yang dikenakan Gus Romy, scarf, gaya rambut, modifikasi lambang partai, hingga pemilihan font.

Muhaimin Iskandar, atau lebih dikenal dengan Cak Imin sepertinya lebih memilih menampilkan gaya "dewasa" dalam iklannya. Jas dan juga jenis kursi yang didudukinya seolah menampilkan penanda pengalaman. Meskipun begitu, tagar #CAWAPRES2019 menjadikan poster ini kembali muda. Tanda pagar (#) identik dengan percakapan di media sosial yang biasa digunakan kaum muda. Herannya, kenapa Cak Imin "hanya" mengiklankan diri sebagai Cawapres alih-alih Capres?


Biasanya seorang tokoh (lokal atau nasional) terlebih dahulu akan mengiklankan diri sebagai nomor satu. Setelah proses negosiasi politik, iklan berikutnya akan ditentukan, siapa yang tetap sebagai pemimpin nomor satu, dan siapa yang menjadi sebagai wakilnya. Gaya seperti ini dapat dijumpai pada iklan Anis Matta dengan narasi sebagai calon presiden.


Bagaimana dengan Agus Harimurti Yudhoyono? Putra sulung presiden RI ke-6 tersebut tampaknya memilih kosakata yang "aman" dengan narasi "pemimpin" saja. Kenapa saya katakan aman? Saya kira kata "pemimpin" bisa bermakna banyak hal; bisa menjadi pemimpin negara, wakil presiden juga pemimpin, bahkan menteri pun adalah pemimpin. Sayang saya tidak punya dokumentasi baliho Mas Agus sewaktu kunjungan beberapa waktu lalu. Hanya ada baliho calon legislatif lokal yang menuliskan narasi Agus Yudhoyono sebagai pemimpin.


Melihat perkembangan politik saat ini, posisi presiden agak sulit diraih oleh empat tokoh muda tersebut. Saya kira posisi Wapres adalah yang paling realistis. Tentu saja semua kembali pada konstelasi politik Pilpres (barangkali setelah Pilkada serentak pada bulan Juni nanti semua akan lebih terang benderang).

Pada Pilpres 2019 tampaknya posisi Wapres semakin strategis. Dinamika posisi Wapres tampak pada tokoh-tokoh yang bertemu dengan presiden Joko Widodo, maupun bertemu dengan ketua umum partai Gerindra, Prabowo Subianto. Para tokoh tersebut tampaknya sudah membaca kontestasi politik saat ini yang akan mempertemukan kembali dua rival, sebagaimana Pilpres 2014.

Siapapun yang sukses menjadi Wapres pada 2019 nanti, akan memiliki tabungan elektabilitas untuk Pilpres 2024. Jadi ada kemungkinan, posisi Wapres akan memegang peranan penting dalam pemerintahan 2019-2024. Apabila Joko Widodo kembali terpilih, tidak mungkin memerintah kembali pada 2024, sehingga Wapresnya bisa mencalonkan diri sebagai presiden. Apabila Prabowo Subianto yang terpilih, besar kemungkinan tidak akan mencalonkan diri lagi pada 2024 karena faktor usia. Prabowo mungkin akan memilih sebagai king maker, tentu saja dengan mendorong Wapresnya maju sebagai Capres pada Pilpres 2024 itu.

Jadi, Wapres 2019-2024 bukan lagi sekedar ban serep atau tukang potong pita. Mungkin hubungan Wapres dengan presiden akan menjadi seperti hubungan antara Moehammad Hatta dengan Soekarno, antara Sultan Hamengkubuwono IX dengan Soeharto, atau antara Jusuf Kalla dengan Susilo Bambang Yudhoyono. Selamat berjuang tokoh muda, calon pemimpin masa depan. Kami doakan bisa amanah.

Foto: businessworld.in, dokumentasi pribadi, bontangpost.id, cakrawala.co, dokumentasi pribadi

You Might Also Like

0 komentar

Like us on Facebook

Flickr Images