Jan 7, 2018

Sepeda-Sepeda di Rumah



Hobi bersepeda ataupun utak-atik sepeda bisa muncul dari mana saja. Berdasar pengamatan pribadi, banyak orang yang mulai menyukai dunia sepeda karena dipengaruhi oleh keluarga atau teman.

Saya sendiri pada awalnya mengabaikan alat transportasi sepeda karena alasan klasik mengenai efektivitas dan efisiensinya. Bersepeda membutuhkan alokasi energi dan waktu yang tidak sedikit. Pekerjaan kantor sudah menguras tenaga dan pikiran, tidak perlu menambahi kesusahan itu dengan mengayuh sepeda. Saat ini, pandangan tersebut berubah.

Perubahan pandangan terhadap aktivitas fisik (baca: bersepeda) tidak terjadi seketika, melainkan didahului oleh berbagai peristiwa dan pengalaman hidup yang cukup panjang. Setidaknya, pengalaman bersentuhan dengan sepeda sudah terjadi sejak masih duduk di kelas dua sekolah dasar. Ketika itu, hari Sabtu sore Kakek datang diantar becak. Di belakangnya ada sebuah becak lagi yang membawa dua buah sepeda, BMX dan mini. Bisa ditebak, sepeda BMX dihadiahkan untuk Saya, sedangkan sepeda mini dihadiahkan untuk adik perempuan.

Jadilah BMX itu sepeda pertama, sekaligus sebagai sarana belajar bersepeda. Sayang sepeda BMX ini berakhir tragis. Rupanya anak kecil jaman dahulu tidak berbeda dengan saat ini. Setelah piawai mengendarai sepeda, Saya tidak sabar untuk melakukan berbagai ekperimen gerakan akrobatik, salah satunya jumping. Pada akhirnya fork sepeda BMX tersebut patah karena terlalu sering digunakan jumping.

Setelah BMX rusak, ada beberapa jenis sepeda yang menjadi penerusnya. Pada kelas lima SD misalnya, Saya dibelikan sepeda yang memiliki operan gigi dan variasi kecepatan yang disebut Federal, meskipun mereknya Jemboly. Masuk SMP sepeda merek Phoenix menjadi alat transportasi utama hingga Saya lulus SMA. Sepeda yang disebut jengki ini tampaknya merupakan yang paling awet dibanding sepeda-sepeda terdahulu. Desainnya cukup sederhana, hanya mengandalkan kecepatan tunggal (single speed) dengan rangka (frame) yang terbuat dari besi.

Selepas lulus SMA dan kuliah ke luar kota, sepeda tidak lagi menjadi alat transportasi sehari-hari. Baru pada tahun 2010 Saya "memiliki" sepeda lagi. Sepeda itu sebenarnya milik isteri yang sudah lama tidak dipakai, mereknya Polygon jenis lady yang terbuat dari besi. Awalnya, sepeda Polygon ini terbengkalai di gudang, dan perlu menunggu setahun hingga akhirnya berfungsi kembali. Pada tahun-tahun itu kegiatan bersepeda memang sedang marak. Beberapa teman sekantor yang biasanya naik kendaraan bermotor berganti moda transportasi dengan sepeda. Ada yang beli baru, ada juga yang menggunakan bekas pakai. Saya termasuk kelompok yang menggunakan sepeda bekas pakai. Sepeda yang semula biasa saja, dirombak drastis dan dicat ulang sehingga tampilan akhirnya benar-benar baru.

Saat ini sepeda yang ada di rumah berjumlah lima. Polygon besi hasil rombak ulang yang dipakai adik ipar, Polygon Heist yang saya ceritakan di tulisan sebelumnya (Baca: Sepeda Baru Bernama Heist), sepeda lipat merek Vivacycle varian Comet yang dipakai isteri, sepeda BMX milik anak laki-laki, serta sepeda mini merek Evergreen yang dipakai si Bungsu.

Memiliki banyak sepeda dalam satu rumah membutuhkan perhatian lebih. Semoga saja bisa konsisten memberikan perhatian dan menularkan hobi bersepeda kepada seluruh anggota keluarga.

Sumber Gambar: id.pinterest.com/mattjessop/bmx/


EmoticonEmoticon