Mar 6, 2017

Akhir Sang Sosiopat


Alone at last, pada akhirnya manusia akan hidup sendiri, menghadapi kematian tanpa seorangpun teman. Barangkali seperti itulah pemikiran seorang detektif legendaris, jenius, dan sering mengaku sosiopat: Sherlock Holmes. Nyatanya pada usianya yang ke-93, Sherlock benar-benar sendiri tanpa keluarga, setidaknya menurut definisi saya sebagai orang Indonesia yang komunal. Mycroft (sang kakak yang sosiopat juga?) sudah meninggal, dr. Watson yang sehari-hari menulis penyelidikan dan penyidikannya, Mary Watson, serta Mrs. Hudson yang menjadi induk semang di 221B Baker Street, juga telah mendahului ke alam baka. Di akhir hidupnya, Holmes hanya ditemani oleh Munro (sang asisten rumah tangga) dan putranya, Roger.

Website Wikihow menjelaskan bahwa di bidang kesehatan mental, sosiopat merupakan sebuah kondisi yang menghambat seseorang sehingga tidak mampu beradaptasi dengan standar etika dan perilaku yang berlaku dalam komunitasnya. Seorang sosiopat tidak mampu merasakan penyesalan atau rasa bersalah, dan sering tidak peduli saat tindakannya mungkin membahayakan orang lain. Pertanyaannya: Benarkah Holmes seorang sosiopat? Apabila terbukti sosiopat, bagaimana dia menghadapi masa tuanya?

Gambaran akhir kehidupan manusia diceritakan dengan detail dalam film Mr. Holmes (2015). Kesengajaan Sherlock Holmes memutuskan menyendiri seumur hidupnya, menurut saya tidak tampak dalam film tersebut. Alih-alih tangguh, sosok tua Holmes malah terlihat sangat rapuh. Gambaran seorang tua hidup sendirian tanpa keluarga di akhir hidupnya, bagi saya—mungkin dirasakan juga oleh sebagian besar masyarakat Indonesia yang berkarakter komunal—adalah sebuah kengerian yang luar biasa. Sosok asisten rumah tangga (Munro dan Roger), atau perawat orang jompo tidak banyak memperbaiki kengerian tersebut, meskipun kepada merekalah Holmes sangat bergantung.

Asisten rumah tangga, pekerja sosial di panti jompo, atau barangkali perawat di rumah sakit, sebaik apapun, tetaplah bukan keluarga dalam arti sebenarnya. Ikatan yang terjadi, kalaupun ada, merupakan kategorikal keluarga alternatif. Bell (dalam Suleeman, 2004) mengkategorikan ikatan ini sebagai fictive kin, yakni menganggap seseorang atau kelompok sebagai keluarga. Ikatan ini merupakan alternatif terakhir setelah tidak berfungsinya kerabat dekat (conventional kin) dan kerabat jauh (discretionary kin). Fungsi keluarga kerabat dekat dan kerabat jauh yang cenderung sosial, tampaknya tidak banyak dijumpai dalam bentuk kerabat fiktif.

Film Holmes menggambarkan adanya transisi fungsional kerabat fiktif. Motif ekonomi yang semula berperan besar dalam relasi antara Mr. Homes dan Munro, tampaknya mulai mencair dengan kehadiran sosok anak-anak Roger. Roger yang merupakan pengagum berat Holmes, sekaligus anak dari Munro, menjadi pengikat antara dua orang asing menjadi sebuah keluarga. Holmes bahkan tidak segan-segan mewariskan seluruh hartanya kepada mereka berdua; karena pada akhirnya hanya merekalah keluarganya.

Pada dasarnya, keluarga merupakan entitas penting dalam masyarakat dan sangat mempengaruhi fungsi dan kesejahteraan mental dan fisiologis mereka (Koerner, 2014). Hidup tanpa keluarga hanya akan mengurangi kualitas kesejahteraan mental dan fisiologis seseorang. Seorang tua berumur 93 tahun seperti Mr. Holmes membutuhkan keluarga lebih dari sebelumnya. Eitzen (dalam Soe'oed, 2004) mengatakan bahwa pada saat seseorang menjadi tua, dia harus belajar sebagaimana anak kecil belajar menjadi remaja. Seorang lanjut usia harus belajar bergantung kepada orang lain, belajar untuk tidak terlalu produktif, dan menghabiskan waktu mereka untuk waktu-waktu santai. Proses belajar menjadi orangtua akan terasa sangat berat tanpa adanya keluarga di sisinya. Pada titik inilah pengakuan Holmes bahwa dirinya seorang sosiopat runtuh.

Ada sebuah scene di akhir film yang cukup menggambarkan pentingnya institusi keluarga. Holmes, bersama Roger, duduk di bibir pantai sambil menata beberapa batu (nisan?) membentuk formasi lingkaran. Holmes menyebut beberapa nama, di antaranya Mycroft, Watson, dan Mary. Batu-batu itu merupakan gambaran orang-orang yang semasa hidup bersama-sama Holmes, namun kini mendahuluinya. Batu-batu itu juga menggambarkan bahwa ikatan keluarga dibawa hingga manusia meninggal, adapun warisan yang tertinggal (Munro dan Roger) akan membentuk sebuah entitas keluarga berbeda lagi. Batu-batu itu menjelaskan bahwa dalam perspektif masa lalunya Holmes selalu mengenang keluarga. Kehadiran Roger di tempat itu secara ikonik menunjukkan kepedulian Holmes terhadap transmisi nilai, yang tentu saja merupakan bagian dari perspektif masa depan mengenai identitas keluarga.

Realitas dunia yang kita tinggali saat ini menunjukkan adanya sebuah bonus demografi. Konon katanya, demografi kebanyakan negara (dengan angka harapan hidup yang semakin tinggi) sudah mulai menunjukkan penduduk yang menua. Kategori penduduk usia lanjut akan merupakan sumber masalah apabila tidak ditangani dengan baik. Tidak banyak orang yang mempunyai kecerdasan seperti Holmes. Kebanyakan orang usia lanjut membutuhkan komunikasi keluarga yang humanis, selain tentu saja perlu bantuan lebih dalam menjalani akhir hidupnya. Tindakan akademis dan praktis menghadapi fenomena bonus demografi ini harus secepat mungkin dilakukan.

Foto: heyuguys.com

Referensi:
Koerner, A. F., 2014, Investigasi Ilmiah atas Komunikasi Keluarga dan Pernikahan (D. S. Widowatie, Pen.). Dalam C. R. Berger, M. E. Roloff & D. R. Roskos-Ewoldsen (Ed.), Handbook Ilmu Komunikasi. Bandung: Nusa Media.

Soe'oed, R. D. F., 2004, Proses Sosialisasi. Dalam T. O. Ihromi (Ed.), Bunga Rampai Sosiologi Keluarga. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Suleeman, E., 2004, Hubungan-hubungan dalam Keluarga. Dalam T. O. Ihromi (Ed.), Bunga Rampai Sosiologi Keluarga. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.


EmoticonEmoticon