Feb 2, 2017

Meneliti Keluarga


Keluarga merupakan institusi yang terdekat dengan kita, manusia. Seumur hidup manusia akan selalu bersama keluarga. Saya belum pernah menemukan manusia yang bisa hidup tanpa keluarga, seperti Tarzan misalnya. Bahkan sebenarnya Tarzan pun memiliki keluarga, meskipun gorila.

Sebagai institusi terdekat dengan manusia, meneliti keluarga saya kira sangat penting. Meskipun tentu saja dengan resiko yang cukup besar, sebagaimana saya ceritakan nanti. Yang jelas keluarga itu memiliki kekhasan masing-masing, sehingga ada aspek-aspek yang selalu berbeda antara satu keluarga dengan keluarga lainnya, meskipun mereka berada dalam rumpun keluarga besar yang sama.

Dalam meneliti keluarga, terdapat berbagai perspektif yang bisa diambil. Kalau kita menggunakan perspektif sosiologi misalnya, kita akan cenderung melihat struktur keluarga dan perubahan struktur tersebut seiring dengan perjalanan waktu. Misalnya saja, membandingkan antara struktur keluarga beberapa dekade silam dengan struktur keluarga moderen.

Apabila kita meneliti keluarga dari perspektif ilmu komunikasi, fokus pokoknya tentu adalah interaksi. Karena ilmu komunikasi masih merupakan ‘turunan’ sosiologi, tentu aspek struktur keluarga masih menjadi bagian kajiannya. Jadi, nantinya peneliti komunikasi akan melihat interaksi dalam keluarga yang dikaitkan dengan struktur keluarga tersebut.

Di awal saya mengatakan resiko meneliti keluarga yang cukup besar. Bukannya menakut-nakuti, tapi resiko ini benar adanya. Bayangkan saja, misalnya kita adalah kelompok orang yang akan diteliti keluarganya. Misalnya saja kita adalah pasangan sejenis yang diam-diam menikah, kemudian ada peneliti yang tertarik dengan kita. Pertanyaannya: Apakah kita bersedia berterus terang mengenai relasi dalam keluarga kita? Seringkali jawabannya tidak.

Resiko memasuki dunia keluarga adalah menjadikan peneliti bagian integral dalam keluarga tersebut. Istilahnya menjadi bagian emik atau insider. Butuh ketekunan dan waktu yang lama untuk menjadi bagian dari keluarga.

Sebenarnya sah-sah saja, kita tinggal wawancara atau memberikan kuesioner kepada sebuah atau beberapa keluarga. Namun, tentu saja data yang dihasilkan tidak terjamin valid. Rentan terjadi kebohongan atau usaha menutupi realitas terjadi.

Nah setelah mengetahui resiko dan menariknya meneliti keluarga, masih ada yang berminat? Minat adalah pilihan.

Foto: dakwatuna.com


EmoticonEmoticon