Mar 2, 2016

Mengenal Psikologi Sosial (Bagian 5)

Berbicara mengenai objek psikologi sosial, tidak terlepas dari objek psikologi pada umumnya. Bagaimanapun, psikologi sosial merupakan cabang dari psikologi pada umumnya. Apabila objek psikologi adalah manusia dan kegiatan-kegiatannya, maka objek psikologi sosial adalah kegiatan-kegiatan sosial atau gejala-gejala sosial (Ahmadi, 2009).

Objek psikologi sosial ini apabila dikaji dapat menghasilkan penelitian-penelitian yang menarik, bahkan beberapa filsuf muncul karena pendalaman terhadap kajian psikologi sosial. Seperti Alfred Adler dan G.W. Allport yang melihat manusia sebagai satu kesatuan antara makhluk individu, dan makhluk sosial. Hal inilah yang kemudian menyebabkan individu-individu tidak pernah ada yang sama. Meskipun ada dua individu yang merupakan anak kembar, karena berasal dari satu sel telur, namun dapat dipastikan pasti ada perilaku-perilaku yang berbeda di antara keduanya. Ini karena dalam perkembangannya, individu-individu tersebut menjumpai lingkungan-lingkungan atau kegiatan-kegiatan yang berbeda.

Kurt Lewin (1947) pernah meminta sejumlah orang untuk makan jeroan (isi perut) sapi dengan alasan bahwa dagingnya diperlukan untuk para prajurit di medan perang. Seperti diketahui, orang Amerika tidak biasa makan jeroan. Bahkan di sana jeroan dianggap sebagai limbah, dan biasanya diperuntukkan bagi makanan hewan (anjing dan lain-lain). Lewin membagi peserta penelitian menjadi dua kelompok. Kelompok I diberi ceramah tentang manfaat jeroan bagi kesehatan, sedangkan kelompok II diminta untuk mendiskusikan sendiri tentang manfaat atau tidaknya jeroan tersebut. Hasilnya adalah bahwa kelompok I lebih banyak yang sependapat dengan penceramah, sedangkan dalam kelompok II lebih banyak yang menentang manfaat jeroan. Akan tetapi, dalam praktiknya justru lebih banyak anggota kelompok II yang sungguh-sungguh mempraktikkan makan jeroan daripada kelompok I. Penelitian ini membuktikan bahhwa pengaruh kelompok lebih kuat daripada pengaruh penceramah (dalam Sarwono, 2002).

Penelitian-penelitian yang memiliki objek yang baik akan terasa percuma tanpa adanya metode yang baik pula. Metode yang digunakan tentu saja harus menyesuaikan dengan objek yang hendak dikaji. Apabila kita ingin memangkas rumput, tentu tidak elok bila menggunakan gerjaji. Sebaliknya memotong sebatang pohon dengan gunting rumput juga tidak akan menyelesaikan masalah. Berikut ini beberapa metode penelitian yang digunakan dalam kajian psikologi sosial.



Metode eksperimen. Metode ini pertama kali digunakan oleh Wilhelm Wundt. Ada beberapa syarat yang hendaknya dipenuhi agar penelitian ini mencapai hasil yang dapat dipertanggungjawabkan. Pertama, harus dapat ditentukan waktu terjadinya gejala yang ingin diselidiki. Kedua, berlangsungnya gejala yang hendak diselidiki harus dapat diikuti, serta peneliti mampu mengamatinya dengan perhatian khusus. Ketiga, tiap-tiap pengamatan atau observasi harus dapat diulangi dalam keadaan yang sama. Keempat, syarat-syarat keadaan eksperimen harus dapat diubah-ubah dengan sengaja.

Strategi yang dijalankan dalam metode eksperimental ini adalah dengan mengubah sebuah variabel secara sistematis, dan efek perubahan ini terhadap satu atau lebih variabel lainnya diukur dengan seksama. Apabila perubahan sistematis dari salah satu variabel mengakibatkan perubahan dalam variabel lainnya, ada kemungkinan penyimpulan bahwa terdapat hubungan antara variabel-variabel tersebut. Karena metode eksperimen sangat berarti dalam menjawab berbagai pertanyaan, seringkali ini menjadi pilihan utama dalam psikologi sosial.

Metode eksperimen ini dimaksudkan untuk menyelidiki suatu gejala dengan perhatian khusus, sehingga dapat memeroleh keterangan yang lebih mendalam tentang gejala tersebut. Metode test dalam penyelidikan psikologis sebenarnya termasuk eksperimen ini.

Hanya saja, untuk melaksanakan metode eksperimen ini tidaklah mudah. Setidaknya ada dua syarat yang harus dipenuhi peneliti (Baron et al., 2006). Pertama, perlakuan acak terhadap partisipan untuk memenuhi kondisi eksperimental. Ini adalah kebutuhan mendasar untuk menghasilkan eksperimen yang valid. Menurut prinsip ini, partisipan riset harus mendapatkan peluang yang sama untuk mendapatkan perlakuan di tiap tingkatan variabel independen. Alasan prinsip ini sederhana: Apabila partisipan tidak diberi perlakuan secara acak, mungkin pada tahapan berikutnya akan kesulitan untuk menentukan apakah perbedaan dalam perilaku mereka berasal dari diri mereka ketika sebelum diberi perlakuan, berasal dari dampak variabel independen, atau keduanya?

Kedua, perlunya pertimbangan adanya validitas eksternal. Maksudnya temuan yang dihasilkan dalam penelitian eksternal seringkali berada di bawah kondisi yang ketat. Sementara realitas sosial yang ada di masyarakat cenderung tidak bisa dikontrol oleh peneliti, peneliti harus berhati-hati untuk memilih bagian mana dari penelitian yang dapat digeneralisasikan dalam situasi sosial sebenarnya, dan barangkali kepada orang yang berbeda dibandingkan mereka yang menjadi relawan penelitian.

Metode survei. Metode ini biasanya digunakan untuk mengumpulkan keterangan mengenai kelompok tertentu yang ingin diselidiki. Dalam pelaksanaan, biasanya dengan menggunakan wawancara, observasi atau angket sebagai alat untuk mengumpulkan keterangan-keterangannya.

Di dalam metode survei peneliti biasanya menggunakan sampel, yakni sebuah kelompok kecil yang dianggap representatif daripada kelompok besar yang ingin diselidikinya. Dan sampel ini kemudian diselidiki dengan teliti dan cermat tentang hal-hal yang ingin diketahuo. Bila cara-cara memilih sampel ini memenuhi syarat, maka hasilnya akan dianggap sama dengan seluruh populasi yang ingin diketahui.

Metode observasi. Yakni sebuah cara untuk mengumpulkan keterangan-keterangan yang diinginkan dengan jalan mengadakan pengamatan-pengamatan secara langsung. Dalam hal ini peneliti melaksanakan penyelidikannya dengan panca-indera secara aktif. Observasi menurut Ahmadi (2009) merupakan suatu penyelidikan yang dijalankan secara sistematis, dan dengan sengaja diadakan menggunakan alat indera terhadap kejadian-kejadian yang langsung ditangkap waktu kejadian tersebut terjadi. Ini berarti bahwa observasi tidak dapat digunakan terhadap kejadian yang telah lewat. Oleh karena dalam observasi menggunakan indera, maka hasil observasi yang baik akan terjadi apabila indera peneliti digunakan secara sebaik-baiknya.

Observasi yang dimaksud dalam metode ini adalah observasi sistematis, bukan sambil lalu. Misalnya saja seorang peneliti psikologi sosial ingin mengetahui intensitas sentuhan manusia dalam berbagi situasi (setting). Peneliti henaknya melakukan penelitian dengan pergi ke mal, bandara, kampus, dan lokasi-lokasi lainnya. Selain itu peneliti juga harus betul-betul memahami siapa menentuh siapa, bagaimana mereka bersentuhan, dengan intensitas yang bagaimana. Riset seperti ini dinamakan sebagai observasi alamiah (naturalistic observation).

Foto: 
www.sigite.org

Referensi:
Ahmadi, A. (2009). Psikologi Sosial. Jakarta: Rineka Cipta.
Baron, R. A., Byrne, D., & Branscombe, N. R. (2006). Social Psychology (17 ed.). Boston: Pearson Education, Inc.
Sarwono, S. W. (2002). Psikologi Sosial, Individu dan Teori-teori Psikologi Sosial. Jakarta: Balai Pustaka.


EmoticonEmoticon