Feb 27, 2016

Mengenal Psikologi Sosial (Bagian 1)

Pada suatu waktu, kita mungkin teringat ketika duduk di bangku SMP ataupun SMU. Banyak dari kita termotivasi untuk mengikuti berbagai kegiatan ekstrakurikuler. Ada pencak silat, ada pramuka, mungkin ada juga yang ikut marching band, bahkan sepakbola. Ada banyak alasan mengikuti kegiatan-kegiatan yang tidak diwajibkan oleh para guru tersebut. Mungkin kalau ditanya jawabannya adalah hobi atau kesenangan. Namun bisa jadi alasannya lebih rumit dari sekedar hobi atau kesenangan.


Seorang teman berkata kepada kita, “Wah, larimu cepat sekali, mungkin kamu bisa ikut tim sepakbola sekolah.” Apa yang kita fikirkan setelah itu? Mungkin ini sebagai bagian dari pembentuk yang diistilahkan oleh (Baron, Byrne, & Branscombe, 2006) sebagai self-perceptions. Pada kenyataannya, kita akhirnya menyadari bahwa apa yang dikatakan oleh teman kita tersebut ada benarnya. Beberapa kali guru olahraga memberikan tes lari, kita jauh meninggalkan teman lainnya di belakang. Kita sampai pada kesimpulan : “Aku seorang pelari yang cepat.” Konsep “pelari cepat” pada akhirnya menjadi bagian dari konsep diri yang dihasilkan dari proses membandingkan diri kita dengan orang lain—disebut sebagai social comparison oleh para ahli psikologi sosial. Kita meyakini konsep diri kita sebagai seorang pelari, sekuat keyakinan kita akan ketidakmampuan mengerjakan soal-soal matematika yang rumit. Lagi-lagi dengan membandingkan diri kita dengan orang lain. Sehingga apabila ada pertanyaan darimana konsep diri kita berasal? Jawabannya menurut Baron et al. (2006), sebagian besar berasal dari informasi yang diberikan oleh orang lain.

Proses kelompok (group processes) seperti ketika kita berlomba lari mencapai garis finish dengan pelari lain, serta mungkin memenangkan lomba tersebut, merupakan fokus kunci kajian psikologi sosial—dan fakta mendasar dalam kehidupan sosial. Ada kalanya, ketika berlari, menggiring bola, hingga melesakkan bola ke dalam jaring gawang lawan dalam permainan sepak bola di sekolah bukan kepuasannya bukan karena semata-mata mengalahkan tim lain. Mungkin karena di antara kerumunan penonton ada seseorang yang secara diam-diam kita sukai. Kita membayangkan seseorang tersebut melihat kemenangan kita dengan penuh kekaguman, dan berharap suatu ketika dia akan menyambut rasa suka kita. Jadi aspek pikiran sosial (social thought)—bagaimana kita berpikir mengenai orang lain dan efeknya terhadap perilaku kita—tentu memiliki peranan dalam keputusan untuk lebih menekuni lagi ekstrakurikuler sepakbola. Dari ilustrasi tersebut, secara ringkas kita dapat merumuskan tema kunci kajian psikologi sosial sebagaimana Baron et al. (2006) meringkaskan : “virtually everything we do, feel, or think is related in some way to the social side of life.”

Faktanya relasi kita dengan orang lain memegang peranan penting dalam kehidupan dan kebahagiaan kita. Sulit membayangkan kehidupan kita tanpa kehadiran orang lain. Konon orang yang bertahan hidup dari kecelakaan pesawat atau kapal laut setelah terapung-apung selama berhari-hari sering mengatakan bahwa penderitaan terbesarnya adalah ketika tidak berhubungan dengan seseorang—lebih menyiksa dibandingkan penderitaan karena lapar yang juga mereka rasakan.

Fakta-fakta inilah yang kemudian menjadikan sebuah ilmu yang selanjutnya dinamakan psikologi sosial mendapatkan tempatnya. Kajian ini akan secara mendalam mengamati bagaimana individu-individu membangun relasi dengan orang lain dalam konteks sosial. Sebaliknya, kajian ini juga melihat secara seksama bagaimana sebuah situasi sosial berpengaruh terhadap individu-individu yang berada di dalamnya.

Foto:
sites.psu.edu

Referensi :
Baron, R. A., Byrne, D., & Branscombe, N. R. (2006). Social Psychology (17 ed.). Boston: Pearson Education, Inc.


EmoticonEmoticon