Dec 23, 2013

Bebersih Komunikasi

Beberapa waktu lalu ada dua artikel di Harian Kompas yang menarik perhatian saya. Pertama, tulisan Tinarbuko (14/9) yang mengupas mengenai sampah visual, limbah dari iklan politik. Kedua, opini Pasya (28/9) yang mengetengahkan mengenai bencana kebahasaan akibat sewenang-wenangnya gaya bahasa sosialita yang diwawancara oleh sebuah stasiun televisi swasta.

Tinarbuko mengkritik mengenai fenomena iklan politik yang dipasang oleh para calon anggota legislatif. Iklan politik mereka perlahan sudah tidak berfungsi lagi. Iklan politik yang seharusnya menjadi pesan (message) kepada audiens, ternyata malah menjadi gangguan (noise) di ruang publik. Iklan yang seharusnya menjadi pusat perhatian, berubah menjadi sampah pandangan.

Sementara, Pasya mengamati fenomena gaya bahasa sosialita di layar kaca. Mereka cenderung memilih bahasa yang dianggap memiliki nilai popularitas di mata masyarakat, biar kelihatan intelek. Pilihannya jatuh pada bahasa Inggris dan logat Jakarta. Sebagian sosialita terlihat memaksa diri, sehingga hasilnya adalah bahasa seperti yang digunakan Vicky.

Sampah Komunikasi
Ada benang merah yang dapat ditarik dari dua pendapat di atas. Pertama, terjadi usaha modifikasi peran pesan komunikasi. Pesan (message) telah diubah orientasinya, dari konten menjadi konteks. Iklan politik tidak lagi hanya menjadi ajang promosi, tapi diubah sebagai peneguh identitas: agar pembuatnya dipandang memiliki kemampuan finansial memadai. Bahasa para sosialita juga tidak sekedar usaha penyampaian pesan, ada konteks yang ingin ditunjukkan kepada masyarakat: kesan intelek, mengikuti perkembangan, dan sebagainya.

Kedua, kegagalan pesan. Alih-alih berhasil menunjukkan konteksnya, pesan komunikasi malah berpotensi menjadi sampah. Iklan politik tidak sukses menunjukkan apapun kecuali hanya menjadi pajangan yang tidak berguna. Bahasa “tinggi” yang dipakai para sosialita juga tidak berhasil memberi sesuatu, selain sampah belaka. Jadi, konten maupun konteks pesan telah hilang.

Ketiga, ruang publik komunikasi masyarakat sangat tercemar. Pesan sampah yang direproduksi secara masif oleh media telah memenuhi ruang publik. Masyarakat jadi kesulitan mendapatkan pesan komunikasi yang jelas dan bermakna. Mereka hanya menjumpai pesan komunikasi yang bias dan miskin makna. Pesan komunikasi sudah tidak ada berarti lagi. Tidak ada perbedaan signifikan antara masyarakat penerima pesan dan bukan penerima.

Keempat, masyarakat berpotensi menderita sakit komunikasi (communication illness). Paparan pesan sampah dan ruang publik komunikasi yang tercemar hanya menghasilkan penyakit. Masyarakat akhirnya turut melakukan perusakan bahasa, agar mirip dengan para sosialita. Mereka juga turut memproduksi sampah visual dengan melakukan tindakan vandalisme di setiap ruang publik yang kosong.

Berkomunikasi secara Empatik
Pesan yang kehilangan makna, media yang kehilangan peranannya, audiens yang hanya menjadi tempat sampah belaka, serta ruang publik komunikasi yang sangat tercemar merupakan tanda terjadinya kerusakan lingkungan komunikasi. Apabila kerusakan sudah sedemikian masifnya, tidak ada kata lain yang dapat mencerminkan keadaan itu selain bencana.

Penanganan bencana tidak dapat dilakukan secara parsial. Semua pihak yang terlibat dalam proses komunikasi memiliki peranan. Pembuat pesan harus meningkatkan mawas diri, tidak seenak perutnya saja. Sebelum proses komunikasi berjalan, secara empatik sebaiknya perlu dipikirkan akibat jangka pendek dan jangka panjangnya. Media diharapkan memiliki swasensor (self censorship) yang ketat, agar pesan sampah tidak direproduksi secara masif. Terakhir, masyarakat sebagai audiens hendaknya meningkatkan daya kritis dan melek komunikasinya. Tidak hanya itu, masyarakat juga berani bertindak melakukan kegiatan bebersih komunikasi. Kerjasama semua pihak akan membawa kita keluar dari bencana ini. Seperti lagu almarhum Chrisye, badai pasti berlalu.


Foto : leadingclean.wordpress.com


EmoticonEmoticon