Jul 5, 2012

Inspirasi dari Eropa


Pagelaran sepakbola terakbar di benua biru sudah berakhir, dengan hasil yang sudah kita ketahui bersama. Spanyol akhirnya memenangkan turnamen sepakbola terbesar tahun 2012 ini dengan mengalahkan Italia di babak final. Tidak tanggung-tanggung, Italia dikanvaskan dengan skor 4-0, skor terbesar dalam sejarah final Piala Eropa hingga tulisan ini dibuat.

Saya tidak akan membahas tentang detil teknik dan strategi kedua tim, tidak pula membahas skill mumpuni dari masing-masing kesebelasan, apalagi membahas WAG’s dari tiap pemain yang rata-rata cantik, itu bukan bakat saya. Saya hanya ingin menyampaikan beberapa pelajaran yang mungkin dapat dipetik dari perhelatan Piala Eropa tahun ini.

Spanyol, tim yang superior beberapa tahun belakangan ini, menjadi pemenang, dan mengangkat piala, setelah sebelumnya tidak pernah kalah. Italia, tim yang selalu memberi kejutan ketika terjadi krisis internal, pun setali tiga uang, tidak pernah kalah sebelumnya. Namun demikian, kemenangan dan hasil imbang masing-masing tim tidak diperoleh dengan mudah. Babak demi babak, pertandingan demi pertandingan dilalui oleh kedua tim dengan perjuangan yang tidak dapat dikatakan ringan. Tim-tim yang mereka kalahkan pun bukanlah tim semenjana. Saya kira kalau timnas Indonesia berkesempatan berhadapan dengan salah satu tim terlemah yang bermain di Piala Eropa, mungkin yang terjadi adalah kekalahan di pihak kita dengan selisih gol yang tidak sedikit, no offense, tapi itulah kenyataan perkembangan sepakbola tanah air.

Ketika berhadapan di babak final, Spanyol dan Italia saya lihat bukan lagi tim yang sama yang berlaga di babak-babak sebelumnya. Mereka adalah tim yang sama sekali baru. Hasil akhir yang tercatat di papan skor membuktikan itu. Italia bukan lagi tim “pembantai raksasa” seperti ketika berhadapan dengan Jerman atau Inggris. Spanyol juga bukan lagi tim yang asyik menguasai bola, bermain “tiki-taka” dan menjadi bingung mencetak gol ketika di depan tidak ada striker sekelas Messi. Mereka betul-betul berubah.

Melihat cerminan partai final Piala Eropa, Saya tiba-tiba teringat dengan keadaan kita. Seringkali kita berharap hasil akhir yang diraih sesuai performance yang dijalani setiap saat. Ketika hari-hari yang berjalan serasa sukses, indah, dan berhasil, maka hasil akhir yang diraih merupakan akumulasi akan kesuksesan, keindahan, dan keberhasilan tersebut. Padahal belum tentu. Adakalanya hasil akhir yang diraih justru merupakan antiklimaks performance kita sehari-hari.

Kenapa ini terjadi? Saya kira karena kehidupan itu seperti air yang mengalir di sungai. Kita tidak akan pernah menjumpai air yang sama dalam tempo waktu berbeda. Kita selalu menjumpai hal-hal berbeda dalam setiap periode kehidupan. Kehidupan bukanlah penjumlahan matematika, di mana faktor penjumlah besar akan memberi hasil besar. Kehidupan itu misterius, tidak tertebak.

Seorang mahasiswa mata kuliah Iklan Media Cetak, umpamanya. Dia merasa sudah mengerjakan segala tugas dan menjawab semua pertanyaan dengan tepat. Namun, di akhir episode perkuliahan, hasil yang diharapkan setimpal dengan kerja keras di tiap tatap muka menguap entah ke mana. Kecewa yang dirasakan. Kadang-kadang sang mahasiswa mengajak rekannya ramai-ramai datang ke dosen pengampu mata kuliah dengan membawa sepikul keluhan. Ketika keluhan itu terabaikan, yang muncul adalah keputusasaan, kemalasan, ketidaksemangatan.

Belajar dari final Piala Eropa tadi, hendaknya kita semua bisa selalu ingat. Kehidupan ini tidak hanya berputar, kehidupan ini juga mengalir. Sehingga, apabila menjumpai hasil seperti yang dialami oleh timnas Italia, kita masih punya pengharapan. Setidaknya, masih ada hari esok yang berbeda dengan hari ini. Masih ada tantangan baru di depan yang menunggu diselesaikan.

Proses inilah yang dinamakan belajar. Kadangkala orang untuk meraih keberhasilan tidak dapat berpedoman pada seberapa menderitanya dia. Mungkin saja ada orang yang berusaha hanya sekedarnya saja, namun “sukses” seperti yang dia inginkan. Sebaliknya, mungkin saja ada orang yang menderita, yang penuh perjuangan, namun tidak ‘berhasil’ seperti pengharapannya. Semua mungkin, namun tidak ada yang gagal. Tipe orang kedua tadi, yang mungkin dianggap gagal oleh sebagian orang, menurut saya berhasil dalam satu hal: berhasil belajar!

Tulisan ini bukan sebagai bentuk apologize atau pembelaan diri di tengah penghitungan nilai mata kuliah. Bukan itu. Tulisan yang dibuat ditengah-tengah proses penilaian beberapa mata kuliah yang saya ampu ini, merupakan penyadar diri pribadi. Dosen juga manusia, bisa salah apalagi lupa. Ketika sudah berusaha sejauh dia bisa, dan kesalahan serta kelupaan terjadi, paling tidak sang dosen juga berhasil dalam satu hal: berhasil belajar!


EmoticonEmoticon