Mar 6, 2011

Teknologi Komunikasi dan Kebebasan

Penggunaan teknologi informasi-informasi-komunikasi (TIK) bukan merupakan cerita baru dalam politik. Pada tahun 1998 internet sudah digunakan untuk melancarkan pergerakan demonstrasi dan reformasi di Indonesia.

Tidak lama setelah itu, pada tahun 2001 di Filipina terjadi aksi people’s power kedua untuk menggulingkan pimpinan yang diduga korup saat itu. Baru-baru ini, kekuasaan Presiden Hosni Mubarak yang berkuasa selama 30 tahun terguling, juga tidak bisa lepas dari ‘keterlibatan’ teknologi-informasi-komunikasi.

Menurut berbagai penuturan koresponden kantor berita dan surat kabar yang bertugas di Mesir, dan juga di Tunisia, banyak terungkap berbagai aspek menarik di dalamnya. Tukar menukar informasi di kalangan para aktivis pro demokrasi di Tunisia dan Mesir berlangsung luas melalui media informasi komunikasi. Saat demonstran Mesir menghadapi petugas keamanan pro-Mubarak, mereka teringat rekan mereka, pendemo di Tunisia. Mereka harus menaruh jeruk, cuka, atau bawang merah di bawah scarf untuk menangkal gas air mata. Mereka juga diingatkan agar membawa soda dan susu untuk keperluan tersebut, uniknya informasi tersebut dipertukarkan melalui Facebook. Mereka juga saling tukar informasi tentang bagaimana bertahan terhadap peluru karet atau memasang barikade.

Wajar adanya melihat ‘kehebatan’ teknologi informasi komunikasi, banyak negara mulai mewaspadainya dan menganggap sebagai ancaman yang perlu diperhitungkan. Indonesia juga termasuk salah satu negara yang sempat berwacana melarang TIK dari Blacberry, karena potensial mengancam negara. Bahkan, negara seperti Amerika pun sempat berwacana untuk menutup layanan internet. Senator AS mengusulkan rencana undang-undang pemberian kekuasaan darurat kepada presiden untuk menutup sebagian internet sebagai pertahanan terhadap serangan cyber. Mungkin ini disebabkan trauma dengan serangan dari Wikileaks terhadap kawat-kawat diplomatik negara adidaya tersebut.

Mungkinkan menghentikan kekuatan TIK dengan menutup layanan internet, atau layanan Blackberry misalnya? Kalau jawabannya menghentikan untuk sementara mungkin ya, tapi tidak selamanya. TIK selalu berevolusi dan bertransformasi mengadaptasikan diri dengan lingkungannya. Kita tidak pernah tahu bagaimana TIK berkembang dua tiga tahun mendatang, serta bagaimana efek positif dan negatif yang menyertainya. Jadi menahan laju TIK sama saja dengan menahan laju air di atas daun talas, sulit dilakukan.

Negara, saya rasa, hendaknya lebih bersikap arif dan bijaksana. Apabila pisau melukai tangan, bukan berarti pisau dilarang digunakan. Lebih baik apabila mereka yang menggunakan pisau dilatih agar pisau tersebut berguna. Pengguna TIK hendaknya selalu dirangkul dan diajak berdiskusi di ruang publik mereka, dunia maya. Karena mereka yang melek TIK cenderung mempunyai rasio yang boleh dibanggakan, mengingat TIK penuh dengan penggunaan logika. Terlebih lagi TIK dan dunia virtual saat ini merupakan ruang publik yang bebas diakses siapapun dan menjadi hak asasi manusia yang melekat pada tiap diri.

(Sebagian tulisan ini merupakan rangkuman dari tulisan Ninok Leksono yang dimuat di Kompas, 6 Maret 2011)


EmoticonEmoticon