Apr 30, 2010

Mahasiswa dan Waktu Senggang


Iseng-iseng Aku mengunjungi blog milik seorang mahasiswa. Di antara tulisan-tulisannya, terselip sepotong curhat tentang sebuah mata kuliah. Berikut sedikit kata-kata curhatnya:

“Gw begadang lagi….sampai blog ini ditulis gw belum tidur….Seperti biasa..gw begadang sembari belajar buat presentasi, QUIZ STATISTIK and ngerjain tugas mulia dari dosen : BIKIN REVIEW…Entah apa yang bikin mr.xxx tiba – tiba secara diktatoris nyuruh semua mahasiswanya untuk ngerjain tugas terkutuk ini setiap minggunya…..(saat ngetik blog ini gw juga belom nyelesein tugas….)”

Aku tersenyum membaca curhat itu, dan seketika ingatan ini menuntun pada beberapa tahun lalu. Ketika itu, Aku juga seorang mahasiswa yang penuh dengan sumpah serapah ketika ada tugas dari dosen.

Pernah suatu kali, dosen memberi tugas menerjemahkan buku Teori Komunikasi dari Littlejohn. Waktu itu Saya bertugas sebagai koordinator tugas kelompok. Repotnya, koordinator tidak hanya harus menyelesaikan tugasnya sendiri saja, namun juga harus mengatur dan mengetik tulisan-tulisan tangan dari anggota-anggotanya (perlu diketahui bahwa waktu itu komputer belum memasyarakat seperti saat ini, dan tentu saja software penerjemah juga belum banyak beredar).

Pekerjaan mengetik dan mengatur tugas ini ternyata memakan waktu yang tidak sebentar. Maghrib Aku mulai mengerjakannya, jam 02.30 pekerjaan itu baru selesai. Selama jam 02.30 hingga waktu Subuh tiba Aku gunakan untuk mencetak hasil ketikan dengan menggunakan printer jarum yang suaranya memekakkan telinga itu. Karena lelahnya, beberapa kali Aku sampai tertidur di atas tuts komputer.

Kalau saja saat itu sudah mengenal dunia internet dengan baik, pasti akan kubuat sumpah serapah sedahsyat mungkin. Sayangnya Aku hanya mampu bersumpah serapah dalam hati dan dalam kamar kos saja, tanpa bisa berbuat lebih.

Sekian tahun berlalu, tugas dosen yang ‘tidak manusiawi’ itu kembali muncul dalam benakku. Kali ini tidak dengan sumpah serapah, tapi dengan sebuah senyum. Ternyata pekerjaanku sekarang selalu menghantui, sebagaimana menghantuinya tugas-tugas kuliah dulu. Artinya, kalau waktu itu Aku sudah terbiasa terhantui dengan tugas-tugas kuliah, mungkin saat ini Aku tidak lagi terkaget-kaget dengan menumpuknya pekerjaan. Faktanya, setiap saat kekagetanku pada tumpukan pekerjaan tidak pernah terhenti.

Tampaknya, kata kunci dari semua hal itu yang Aku ceritakan adalah ‘waktu senggang’. Kadang Aku merasa belum mampu mengatur dan memaknai waktu senggang dalam hidupku. Semasa kuliah, waktu senggangku seakan sudah habis untuk acara main, nongkrong dan jalan-jalan. Tidak ada waktu senggang lagi untuk belajar, apalagi untuk mengerjakan tugas yang ‘tidak manusiawi’ itu.

Kalau saja bisa kembali ke masa lalu, mungkin waktu senggang itu akan kumaknai secara lain. Aku akan dahulukan hal-hal besar dalam hidup, tugas kuliah, membantu orang tua, mencari pengalaman kerja dan sebagainya. Sementara acara main, jalan-jalan atau pacaran akan menjadi penghias saja.

Terakhir, Aku teringat kisah bijaksana tentang guru, murid dan sebuah cawan. Kisah dimulai dengan sebuah setting ruang kelas di mana seorang guru sedang mengajar pelajaran kebijaksanaan kepada murid-muridnya. Di depan sang guru ada sebuah cawan besar yang kosong. Sang guru bertanya pada murid-muridnya, “Murid-muridku, apakah gelas ini kosong?”

Murid-murid menjawab dengan kompak, “Kosong Guru!!!”

Sang guru lalu mengisikan beberapa bongkah batu besar pada cawan tersebut. Sang guru bertanya lagi, “Sekarang, apakah gelas itu sudah penuh?”

Murid-murid menjawab serentak, “Penuhhh...!!!”

Sang guru tersenyum. Tangannya meraup sejumput kerikil dan memasukkannya ke dalam cawan. Kerikil itu lalu mengisi ruang-ruang kosong di antara batu-batu besar. Sang guru bertanya lagi, “Sekarang, apakah gelas itu sudah penuh?”

Murid-murid mulai tidak kompak, jawaban mereka tidak seperti ketika pertama kali ditanya. Beberapa menjawab penuh, beberapa menjawab belum, dan sebagian besar ragu-ragu. Kelas mulai gaduh, dan baru terhenti ketika sang guru mengangkat tangannya.

Ketika kelas sudah tenang, sang guru meraup pasir di dekatnya dan dituangkan ke dalam cawan. Pasir itu mengisi sela-sela kerikil dan memenuhi seisi gelas. Kemudian, sang guru meraih sebuah teko berisi air dan menuangkannya ke dalam cawan. Akhirnya, cawan itu benar-benar penuh oleh batu, kerikil, pasir, dan air.

“Murid-muridku,” Sang guru berkata sambil tersenyum, “Ada dua pelajaran yang kita dapatkan hari ini.”

Seluruh kelas hening, dan puluhan pasang mata menatap wajah sang guru yang masih berhias senyum. “Pelajaran pertama,” Lanjut sang guru, “Kita seringkali merasa waktu kita sudah habis untuk sebuah kegiatan saja, padahal masih ada waktu senggang di sekitar kita.”

“Pelajaran kedua, dahulukan hal-hal besar dan kerjakan hal-hal kecil kemudian, maka waktu akan lebih terasa berarti bagi kita,” pungkas sang guru menutup pelajaran kebijaksanaan hari itu.

1 komentar

namanya juga mahasiswa...


EmoticonEmoticon