Dec 19, 2009

Jacques Derrida (1930-2005)


Derrida bisa dikatakan sebagai salah satu founding fathers postrukturalis yang sangat berpengaruh. Dalam mengemukakan gagasannya ia berangkat dari Saussure, terutama dua asumsi dasarnya tentang linguistik: (a) linguistik dapat ditempatkan pada suatu landasan ilmiah hanya dengan mengadopsi suatu ‘pendekatan sinkronis’, pendekatan yang memperlakukan bahasa sebagai network of structural relations yang hadir dalam suatu kurun waktu tertentu; (b) Saussure merasakan perlu adanya perbedaan yang tegas antara ujaran dan tulisan individual (parole) serta sistem umum relasi-relasi di mana parole diturunkan (langue); (c) Saussure memandang tanda dari dua aspek: sensible (tulisan, ucapan) dan intelegible (konsep).

Ketiga asumsi tersebut, menurut Derrida, adalah upaya Saussure mengilmiahkan ilmu bahasa yang menurutnya adalah titik kelemahan strukturalisme saussurean. Saussure secara sistematis mendegradasi tulisan sebagai sekadar kendaraan bagi konsep dalam benak manusia. Saussure juga meletakkan tulisan sebagai subordinat dari ucapan yang tampak jelas dalam konsepnya tentang relasi antara citraan bunyi dan konsep. Hal itu, menurut Derrida, merupakan kelanjutan tradisi filsafat Barat yang bersifat phonosentrisme, di mana ucapan dianggap sumber kebenaran dan autensitas, sumber kehadiran diri, ‘hidup’, sedang oposisinya, yaitu tulisan, dianggap ‘mati’, distortif, dan sekadar emanasi sekundernya. Tulisan selalu dianggap sesuatu yang menghancurkan ideal kehadiran diri murni (pure self presence); self adalah jaminan kepastian kebenaran, Descartes : cogito ergo sum (aku berpikir maka aku ada). Tulisan adalah ancaman pada pandangan tradisional yang sangat mengakar, yang mengasosiasikan kebenaran dengan kehadiran diri (self-presence).

Prejudis strukturalis yang menempatkan privilise ucapan atas tulisan, menurut Derrida, merupakan bagian dari tradisi metafisika Barat yang dahsyat pengaruhnya yang ia sebut sebagai logosentrisme. Logosentrisme berasal dari ‘logos’, kata Yunani Kuno yang berarti ‘kata’, yang juga dari sana kita memmeroleh kata ‘logic’ sebagaimana …logy (yang artinya teori tentang…, studi tentang…, seperti dalam biologi, psikologi, dan sebagainya). ‘Logos’ adalah kata yang dirasuki oleh konsep diterjemahkan ke bahasa Latin sebagai ‘ratio’ atau ‘reason’. Logosentrisme dalam memrioritaskan spoken word atas written word juga menempatkan privilise makna original atas repetisinya dalam bentuk material, origin atas tiruan. Sistem keyakinan ini membentuk keseluruhan metafisika yang berjiwakan platonian. Plato mengatakan bahwa tugas filsuf adalah melampaui yang fisik, semu, yang sekadar dunia tiruan, untuk kembali dan menangkap dunia sejati, origin, yang kekal. Kritik Derrida terhadap prioritas tradisional ucapan atas tulisan sebenarnya adalah kelanjutan kritik Nietzsche terhadap metafisika kehadiran absolut: di balik penampakan terhadap suatu forma sejati yang kekal, dan metafisika absolut origin: dunia penampakan berasal dari roh absolut (Hegel), adanya unmoved mover sebagai sebab pertama (Aristoteles), pancaran dari yang satu (Plotinus).
Kritik Derrida terhadap strukturalisme adalah dengan penempatan langue di atas parole, ucapan di atas tulisan, Saussure masih mengadopsi logosentrisme metafisika Barat yang memandang perbedaan sebagai satu yang hierarkhis (rasio/perasaan, metafor/literal, pria/wanita, dan sebagainya). Oposisi biner yang dikemukakan Saussure dipandang Derrida sebagai logika kekuasaan dalam menempatkan satu term sebagai pondasi sejati (ucapan, langue, dunia ide, rasio, laki-laki) bagi derivasinya yang semu-subordinat (tulisan, parole, dunia jasmani, emosi, perempuan). Apabila tesis relasionalisme dijalankan benar-benar, maka tidak akan ada privilise satu entitas atas entitas yang lain, langue didefinisikan oleh apa yang bukan parole, demikian sebaliknya; dan ucapan didefinisikan oleh apa yang bukan tulisan, demikian juga sebaliknya. Derrida mengemukakan bahwa tidak ada konsep tentang tulisan yang secara esensial membedakannya dari ucapan. Baik tulisan dan ucapan bersifat relasional (they are what the others are not), yang artinya—dalam kasus tulisan dan ucapan—tidak pernah terdapat suatu original presence; yang ada hanyalah partial presence dan partial absence.
Apa yang hendak ditunjukkan Derrida adalah bahwa prioritas satu kutub atas kutub lain adalah produk manipulasi kultural yang berdimensi kekuasaan. Feminisme postrukturalis mengatakan bahwa oposisi biner laki-laki/wanita bukanlah suatu perbedaan yang seimbang dan wajar, karena selama ini wanita selalu dijadikan the Other dari lelaki untuk menjamin maskulinitas, rasionalitas, dan segi-segi lain dari lelaki. Perbedaan lelaki dan perempuan adalah konstruksi politis. Derrida yakin betul bahwa dengan senjata dekonstruksi, oposisi-oposisi hierarkhis ini akan luluh lantak dan kolaps. Dua oposisi biner utama yang dihantam oleh Derrida adalah oposisi presence/absence dan origin/supplement. Metafisika kehadiran yang selalu mencari absolut origin memanifestasikan dirinya dalam upaya plato untuk menelusuri bahasa dan makna kembali pada suatu forma absolut berupa kebenaran yang absolut, pasti, dan kekal, dan kemudian berlanjut pada Descartes yang berupaya mencari self sebagai fondasi absolut semua pemikiran.
Derrida mengambil gagasan Saussure bahwa setiap tanda tidak sempurna tanpa tanda-tanda lain. Makna tidak ditemukan di satu tempat dalam bahasa. Tiap tanda memiliki jejak-jejak tanda yang lain dan tidak dapat disingkirkan begitu saja walaupun mereka absence. Makna dari petanda ‘suami’ tidak pernah presence, sepenuhnya terlepas dari relasinya terhadap what is not: ‘istri’. Menurut strukturalisme, makna dimungkinkan hanya karena terdapat perbedaan (différence) antara tanda. Derrida menambahkan hal yang baru terhadap konsep ini, yaitu bahwa makna tidak pernah hadir sepenuhnya, tetapi selalu tertunda (defféred). Derrida menciptakan kata Perancis baru untuk memuat dua konsep tersebut di atas, yaitu différance. Différance bukan kata Perancis, namun berkaitan dengan kata benda: la différence (dengan ‘e’), kata kerja différer dan kata kerja sifat différant. Différance diciptakan Derrida untuk menunjuk bagaimana (a) makna diturunkan dari perbedaan, bukan dari realitas sebagaimana adanya, dan (b) makna tidak pernah hadir sepenuhnya, melainkan selalu tertunda (postponed).
Derrida mengemukakan bahwa tidak pernah ada satu makna. Begitu bahasa memasuki domain publik, maka penulis kehilangan kendali atasnya. Bahasa selalu terbuka bagi pemahaman-pemahaman baru yang muncul dari berbagai konteks yang mungkin. Tujuan penafsiran yang tadinya adalah menemukan makna, oleh Derrida diubah menjadi menciptakan makna. Derrida kemudian mengajukan metode dekonstruksi sebagai kontra terhadap metode-metode penafsiran yang selalu berupaya menemukan makna pada dirinya. Derrida telah menggunakan kata ‘dekonstruksi’ di dalam karya-karya awalnya. Kata tersebut diterjemahkan dari kata Jerman : destruktion, istilah yang digunakan Martin Heidegger dalam melakukan re-examination terhadap metafisika Barat. Bagi Derrida, kata destruction terlalu negatif dan one-sided, kata tersebut menunjukkan suatu penghancurleburan (demolition). Dalam penggunaannya oleh Derrida, istilah deconstruction merujuk pada pergerakan ganda: melakukan destruksi sekaligus menata kembali.
Dekonstruksi adalah teori pembacaan yang bertujuan mengatasi logika oposisi dalam teks, dekonstruksi berupaya membongkar kealamiahan suatu perbedaan dengan menunjukkannya sebagai konstruksi politis. Derrida memastikan bahwa apa yang selama ini diyakini sebagai dikotomi: pria/wanita pada dasarnya adalah perbedaan yang telah dimanipulasi menjadi hierarkh. Dekonstruksi menurut Derrida bisa didefinisikan sebagai kecurigaan terhadap cara berpikir: what is the essence of? Kita tidak mencari esensi, melainkan kontradiksi dalam teks yang menempatkan privilise atas satu dari dua kutub yang saling beroposisi, misalnya teks patriarkal.
Derrida memperlihatkan bagaimana ia mendekonstruksi tradisi yang menempatkan ucapan sebagai privilise atas tulisan. Ucapan, menurutnya, juga memiliki kualitas ketidakpastian yang menurut tradisi phonosentrisme dimiliki oleh tulisan yang diklaim sebagai subordinatnya: kata différance, misalnya, berbeda dengan différence justru karena tulisannya, padahal ucapannya sama. Saat kata tersebut diucapkan, orang belum bisa menangkap apakah yang dimaksud adalah différance atau différence sebelum membaca tulisannya.
Dekonstruksi menjadi metode yang cukup diminati, khususnya dalam ilmu-ilmu humaniora. Dalam kesusastraan, dekonstruksi ditujukan sebagai metode pembacaan kritis yang bebas (retorik) guna mencari celah, kontradiksi, dalam teks yang berkonflik dengan maksud pengarang. Membaca bukan lagi menangkap makna yang dimaksudkan pengarang, melainkan memproduksi makna-makna baru yang plural tanpa klaim absolut, universal.
Keyakinan Derrida adalah ll n’y pas de hors-teste (there’s nothing outside the text). Penafsir tak pernah bisa mengambil tempat netral tatkala menganalisa suatu teks tanpa dirinya sendiri dibentuk oleh teks-teks yang ia baca. Teks sendiri tidak dapat semata-mata diasalkan maknanya pada gagasan di benak pengarang, karena benak pengarang merujuk pada gagasan-gagasan pengarang lain yang mempengaruhinya. Mencari makna adalah sia-sia, karena makna selalu melenggang pergi begitu kita menangkapnya. Karena itu, menurut Derrida, lebih baik kita dekonstruksi saja teks-teks yang masih diwarnai oleh keyakinan oposisi hierarkhis metafisika Barat.
(Dikutip dari Donny Gharal Adian. 2005. Percik-Percik Pemikiran Kontemporer. Bandung: Jalasutra)


EmoticonEmoticon