Dec 18, 2009

Bung Hatta, Sang Proklamator Sederhana

Bung Hatta terkenal sebagai pribadi yang amat sederhana. Sebagai seorang pejabat negara, ia seorang yang jujur dan bersih, serta hidup hemat. Jika melakukan kunjungan ke luar negeri, beliau hanya membawa satu kopor ketika berangkat, dan satu kopor pula waktu pulang. Tidak pernah lebih dari itu. Saking sederhananya, ketika sudah mengundurkan diri dari jabatan Wakil Presiden RI dan menjadi pensiunan, beliau hampir saja tidak mampu membayar langganan air minum dan membayar iuran pembangunan daerah. Padahal, sebagai seorang mantan wakil presiden, kalau saja Bung Hatta mau, pintu bisnis pasti cukup terbuka karena memiliki banyak kawan. Namun, beliau memilih hidup sebagai seorang ‘bapak bangsa’ yang tidak ingin ternoda dengan perilaku menyimpang ketika harus menjalani profesi yang lain. Kisah kesederhanaannya yang banyak diketahui orang adalah keinginannya memiliki sepatu Bally yang terkenal cukup mahal. Ketidakmampuan dari segi keuangan tergambar ketika Bung Hatta akhirnya harus menyimpan guntingan iklan sepatu tersebut jika sewaktu-waktu dibutuhkan kalau uangnya mencukupi. Cermin kesederhanaan, saat beliau menolak haknya untuk dimakamkan di makam pahlawan jika wafat. Dalam surat wasiat tertanggal 10 Pebruari 1975, beliau mengemukakan, “…Saya tidak ingin dikubur di Makam Pahlawan (Kalibata). Saya ingin dikubur di tempat kuburan rakyat biasa yang nasibnya saya perjuangkan seumur hidup saya.” Tanggal 14 Maret 1980, Bung Hatta mendahului kita menghadap Sang Khalik. Namun jiwa dan semangatnya tetap bersama kita, menjadi teladan generasi mendatang. (Dikutip dari tulisan Purnawan Basundoro, dalam Majalah Intisari Edisi Juli 2009)


EmoticonEmoticon