Kopi dalam Gelas Logam


Saya sebenarnya tidak terlalu mengetahui seluk beluk kopi. "Perkenalan" saya dengan kopi bermula pada pertengahan tahun 1999, ketika lulus SMA dan hendak menempuh Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN). Saya menempuh UMPTN di salah satu kota yang cukup dingin. Selama tinggal di kota dingin tersebut saya juga mencari beberapa perguruan tinggi swasta sebagai alternatif pilihan apabila tidak masuk dalam seleksi UMPTN. Sekitar seminggu saya kedinginan di kota itu, dan hampir setiap pagi dan malam meminum secangkir kopi sachet yang harganya 500 rupiah.

Beberapa belas tahun kemudian, secara tidak sengaja, saya bertemu lagi dengan kopi. Awal mulanya saya hendak meneliti mengenai tembakau. Ternyata, kota sentra tembakau tersebut juga merupakan penghasil kopi. Mungkin karena letak kota yang cukup tinggi, dan hawanya yang dingin membuat kopi tumbuh dengan baik. Tanaman kopi dipakai sebagai "pagar" bagi tanaman tembakau.

Setiap saya berkunjung ke lokasi penelitian, hampir selalu ada suguhan segelas kopi. Entah kenapa, bagi saya, kopi itu sedemikian lezat. Ada berbagai varian kopi yang cukup menarik, misalnya saja kopi luwak, atau kopi lanang. Ada juga kopi beraroma nangka yang unik. Penduduk daerah tersebut sudah terbiasa meminum kopi hasil lahan sendiri yang menurut mereka berkualitas tinggi (kata salah seorang tokoh masyarakat, kopi mereka menjadi juara dua di festival kopi internasional di Amerika).

Pergaulan dengan para penduduk daerah penghasil kopi (dan tembakau) membuat saya jadi tahu beberapa istilah perkopian. Misalnya saja; kopi petik merah, kopi proses full wash, dan beberapa istilah lain. Saya juga baru tahu kalau kopi ini bersifat menyerap aroma-aroma yang berada di sekitarnya. Kopi yang tidak ditutup, kemudian disimpan di dekat buah durian, otomatis akan beraroma durian. Salah seorang petani kopi pernah panen kopi yang rasanya pedas, karena saat berbunga bertepatan dengan waktu panen cabai.

Karakter kopi yang menyerap aroma-aroma sekitarnya menjadikan penikmat kopi harus berhati-hati sekali memperlakukannya. Misalnya saja, bubuk kopi harus benar-benar tertutup rapat agar tidak berubah aroma. Pengalaman saya pribadi mengatakan bahwa wadah minuman kopi juga bisa mempengaruhi rasanya.

Ceritanya saya ingin meminum kopi selalu dalam keadaan hangat. Secara tidak sengaja saya membuka laman marketplace, dan menemukan ada alat penghangat kopi dengan daya dari colokan USB. Saya berpikir, alat penghangat kopi itu akan terasa percuma di gelas yang terbuat dari keramik atau kaca. Keramik atau kaca merupakan penghantar panas yang jelek (?). Setahu saya bahan penghantar panas yang baik adalah logam.

Saya beli gelas yang terbuat dari bahan stainless steel. Saya masukkan kopi yang sudah saya takar sebagaimana biasanya, lalu saya panasi menggunakan rantang yang diisi air. Akhirnya kopi itu bertahan panas lebih lama dari biasanya. Tapi rasanya kok seperti kobokan ya? Tidak enak sekali. Rupanya cairan kopi itu menyerap aroma logam cangkir.

Pantas saja, jarang orang yang minum kopi menggunakan gelas logam. Rata-rata mereka minum menggunakan gelas kaca, atau gelas keramik. Rupanya penyebabnya adalah rasa yang berubah. Jadi minum kopi yang paling nikmat adalah menggunakan gelas kaca atau keramik, minimal gelas stereofom yang sering digunakan di minimarket itu.

Lalu bagaimana jika kopinya menjadi dingin? Kata seorang petani kopi, sensasi rasa kopi itu berubah-ubah tergantung suhunya. Kopi yang panas akan berbeda dengan kopi yang dingin. Masing-masing dengan kenikmatannya sendiri-sendiri. Seorang penikmat kopi sejati, katanya, akan dengan setia menghirup kopi sambil merasakan perubahan sensasi rasanya. Jadi jangan salahkan kalau mereka minum kopi hingga berjam-jam.

Gambar: usatoday.com
Read More

Heistouring (Rangka dan Geometri)


Sebagaimana janji pada tulisan SEPEDA BERKONSEP TOURING  kali ini akan dibahas mengenai konsep touring yang saya coba terapkan pada sepeda Heist. Seiring berjalannya waktu, sepeda ini saya namakan Heistouring.

Kalimat "penerapan konsep touring" pada Heist sebenarnya agak berlebihan juga. Perubahan yang saya lakukan hanya bersifat minor saja, paket hemat biaya. Kalau dihitung pada skala maksimal 100, mungkin nilai Heist saya sebagai sepeda touring berkisar 70. Kita lihat bersama ya.

Pertama bahan rangka atau frame. Sepeda touring idealnya memiliki rangka yang kuat namun lentur. Rangka yang kuat dibutuhkan untuk menopang beban bawaan berupa tas-tas pannier, sedangkan sifat lentur dibutuhkan agar rangka tidak mudah patah serta relatif mudah diperbaiki ketika sedang berada di perjalanan touring.

Rangka yang sifatnya kuat dan lentur biasanya dimiliki oleh bahan Hi-ten atau CrMo. Adapun rangka Heist terbuat dari alumunium alloy 6061. Rangka yang terbuat dari bahan dasar alumunium bersifat getas (mudah patah). Rangka berbahan alumunium alloy saat ini banyak digunakan pabrikan untuk produksi sepedanya, mungkin karena bahan baku yang relatif murah, dan bobotnya yang relatif ringan dibanding CrMo, apalagi Hi-ten.

Bahan CrMo yang relatif mahal menjadikan sepeda touring "asli" yang baru harganya juga mahal. Banyak penggemar sepeda touring yang akhirnya memilih menggunakan sepeda klasik bekas berbahan CrMo daripada membeli sepeda alumunium alloy yang baru (Merek sepeda klasik legendaris yang banyak dipilih penggemar touring adalah Federal).

Rangka yang terbuat dari bahan besi atau Hi-ten sebenarnya juga bagus untuk touring, hanya saja bobotnya yang berat menjadikan para penggemar sepeda harus berpikir berkali-kali sebelum membelinya. Selain itu, rangka yang cenderung rawan berkarat menjadikan sepeda besi kurang sedap dipandang (penggemar sepeda besi pasti akan berkata sebaliknya, steel is real).

Dilihat dari segi bahan rangka, sepeda seperti Heist sebenarnya "agak dipaksakan" menjadi touring (Kalimat ini layak diperdebatkan mengingat ada seorang Heister yang saat ini sedang dalam perjalanan *touring* antarnegara, dan telah sampai di India. Silakan diintip akun Instagramnya: @penggowes). Secara teori rangka Heist ini tidak akan bertahan lama (apakah berhubungan dengan garansi frame yang "hanya" lima tahun?).

Kelebihan Heist, menurut beberapa forum, sehingga layak dipertimbangkan sebagai sepeda touring adalah pada geometri rangka. Heist memiliki rangka yang relatif tegak, sehingga tidak cepat membuat lelah. Cocok untuk perjalanan jauh.

Saya beli Heist ini dalam kondisi bekas. Dulunya sepeda ini dipakai oleh seorang guru olahraga. Saya saat mengendarai sepeda pertama kali merasa sangat cocok dengan gaya sepeda yang sporty. Seiring berjalannya waktu, saya merasa posisi gowes yang terlalu melelahkan, sehingga merasa perlu menambahkan peninggi stem dan adjustable stem.


Saya terpaksa memasang kedua alat tersebut untuk mengimbangi tinggi sadel. Saya memasang sadel pada posisi yang cukup tinggi, sehingga ketika pedal berada di bawah kaki saya hampir lurus. Menurut saya posisi kaki seperti ini sangat nyaman dalam perjalanan jauh. Kalau handlebar atau setang tidak ikut saya tinggikan, maka posisi saya akan semakin menunduk.
Posisi sadel yang tinggi sebenarnya bukan tanpa resiko. Ketika berhenti, saya harus membiasakan diri turun dari sadel. Kalau tidak turun dari sadel, posisi kaki yang digunakan menjaga sepeda tetap berdiri jadi agak menjinjit. Sangat rawan jatuh.

Peninggian setang menggunakan peninggi stem dan adjustable stem ternyata belum cukup. Saya masih merasa flat handlebar atau setang lurus bawaan Heist masih terlalu jauh untuk dijangkau. Jadilah saya beli setang merek Oval yang berbentuk mirip setang kumis, namun memiliki pegangan multiposisi.


Posisi geometri akhir Heist saya jadi mirip sepeda jengki. Seperti saya ceritakan di artikel SEPEDA-SEPEDA DI RUMAH, Heist ini jadi mirip sepeda Phoenix yang menemani perjalanan ke sekolah dari SMP hingga SMA. Harapan saya, Heist ini seawet Phoenix itu, awet bahannya dan awet bagusnya.

Foto: fiabike.blogspot.com, dokumentasi pribadi
Read More

Sepeda Berkonsep Touring


Berbagai macam sepeda yang kita jumpai di pasaran dibuat berdasarkan konsep-konsep tertentu. Konsep sepeda tersebut mempengaruhi berbagai hal; seperti geometri, bahan rangka, dan peralatan yang menempel kepadanya. Jadi, sepeda yang dibeli konsumen sebenarnya sudah disesuaikan dengan kebutuhan konsep dasar bersepeda. Tentu saja pemenuhan kebutuhan konsep sepeda menyesuaikan harga; ada sepeda yang sudah tinggal pakai, ada juga yang harus ditingkatkan. Hal penting yang perlu dilakukan konsumen adalah mengetahui kebutuhan, dan konsep sepeda yang hendak dibelinya.

Seorang konsumen yang butuh membalap di jalan, tentu harus membeli sepeda berkonsep balap, atau dikenal dengan road bike. Konsep sepeda balap akan 'melahirkan' geometri yang dibuat aerodinamis, sehingga posisi gowes relatif lebih menunduk untuk mengurangi terpaan angin. Konsep balap juga membutuhkan bahan sepeda yang sangat ringan, misalnya saja karbon. Ukuran ban, jumlah gerigi pada bagian crank, bentuk handlebar, semuanya mengikuti konsep balap.

Hampir setiap segmen dalam olahraga sepeda memiliki konsep yang berkonsekuensi pada aspek geometri, bahan rangka, dan perlengkapan sepeda. Sepeda konsep touring tampaknya sedikit berbeda. Kalau kita ketik di mesin pencari kata-kata "touring bike", atau "sepeda touring", akan muncul berbagai varian dan bentuk sepeda. Ada sepeda balap, sepeda gunung, sepeda onthel, bahkan sepeda lipat. Hal yang membuat sepeda-sepeda ini diberi nama touring adalah adanya tas-tas di beberapa bagian sepeda.

Beragamnya varian dan bentuk sepeda touring berkaitan dengan pemaknaan "bicycle touring" itu sendiri. Saya amati di beberapa laman pesepeda, video-video Youtube, serta beberapa media sosial, ada beberapa jenis touring. Pertama, touring berganti moda. Touring seperti ini tidak melulu berurusan dengan gowes. Kadang-kadang pesepeda menggunakan moda transportasi lain untuk menikmati perjalanannya, atau untuk menghemat waktu dan tenaga. Pegowes yang menyukai gaya touring seperti ini mungkin akan cenderung memilih sepeda yang ringkas, bisa dibawa ke mana-mana, dan tidak memakan ruang. Pilihannya tentu jatuh pada sepeda lipat.

Kedua, touring dengan dukungan logistik. Touring gaya ini biasanya dilakukan secara berkelompok. Jadi ada beberapa pegowes yang bersama-sama memilih rute touring kemudian menentukan kebutuhannya selama perjalanan. Kebutuhan-kebutuhan ini kemudian disatukan dan diangkut dengan sebuah mobil yang mengiringi perjalanan mereka. Mobil ini sekaligus berfungsi sebagai sarana evakuasi apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya bila ada anggota touring yang tidak mampu melanjutkan perjalanan. Pegowes yang melakukan touring jenis ini tidak dibebani tas, sehingga leluasa memilih sepedanya.

Ketiga, touring uji nyali. Namanya terkesan bombastis (sengaja saya buat begitu), tapi pada dasarnya touring jenis ketiga ini memang sering merontokkan mental pegowes. Pada touring jenis ini, pegowes harus mencukupi semua kebutuhannya dari perlengkapan yang dibawa di sepeda; seperti kebutuhan untuk tidur, mandi, makan, alat perbaikan sepeda hingga kebutuhan kesehatan. Tidak heran bila pegowes yang melakukan touring uji nyali sering membawa tas yang sedemikian banyak. Banyaknya tas yang harus dibawa berkonsekuensi dengan sepeda yang digunakan. Biasanya pesepeda touring ini akan memilih sepeda yang dianggap kuat.


Kira-kira saya mau pilih touring jenis mana ya? Ikuti sambungannya di tulisan mendatang yang berjudul HEISTOURING, dan mungkin akan saya tambahkan juga dengan tulisan COMETOURING.

Foto: en.wikipedia.org
Read More

Masa Depan Komunikasi (Keluarga)?


Keadaan di masa depan sejatinya berada dalam kegelapan, tiada seorang pun yang tahu kejadian esok hari. Manusia hanya bisa memperkirakan keadaan di masa depan berdasarkan pola-pola kejadian yang telah dilewati. Misalnya saja perkiraan mengenai kecenderungan terjadinya hujan setelah ada awan hitam, perkiraan arah angin berdasarkan perbedaan tekanan udara, atau perkiraan jarak yang bisa ditempuh oleh setiap liter bahan bakar.

Perkiraan-perkiraan tersebut merupakan hasil olah pikir manusia dalam disiplin ilmu eksakta. Biasanya perkiraan dalam ilmu eksakta cenderung mendekati kebenaran. Berbeda dengan perkiraan dalam ilmu sosial yang lebih sulit dilakukan. Ilmu sosial, yang mengkaji manusia dengan segala perilakunya, memiliki tantangan karena keunikan manusia itu sendiri. Manusia kadangkala berperilaku nganeh-anehi, atau nyeleneh.

Ilmu komunikasi, sebagai bagian dari ilmu sosial, juga mengalami kesulitan-kesulitan ketika harus menerawang masa depan kajiannya. Kegiatan komunikasi kita saat ini barangkali tidak terbayang oleh Harold Lasswell yang terkenal dengan model komunikasinya: WHO-SAYS WHAT-IN WHICH CHANNEL-TO WHOM-WITH WHAT EFFECT. Lompatan-lompatan teknologi yang luar biasa mengakibatkan berubahnya kegiatan komunikasi secara signifikan.

Pada kesempatan ini, saya mencoba menulis terawangan tentang komunikasi keluarga setelah membaca beberapa artikel media massa di bulan Februari dan Maret 2018. Sebenarnya terawangan ini termasuk bagian dari ketakutan saya, terutama dengan nasib anak-anak kita (anak saya yang paling besar berusia 8 tahun, dan semoga saja tidak termasuk kategori anak yang saya ceritakan nanti).

Tabloid Info Komputer edisi Maret 2018 mengutip laporan penelitian dari sebuah lembaga nirlaba bernama Common Sense Media. Hampir setengah responden yang disurvei lembaga ini mengatakan bahwa anak-anak mereka menunjukkan perilaku adiktif dalam penggunaan smartphone. Perilaku adiktif anak-anak ditunjukkan dengan peningkatan durasi penggunaan smartphone mereka. Pada tahun 2013, anak-anak berusia 8 tahun atau lebih kecil menghabiskan sekitar 15 menit perhari untuk menatap layar ponsel. Di tahun 2017 mereka menghabiskan waktu 48 menit perhari, meningkat sampai menjadi 3 kali lipat. Peningkatan durasi penggunaan smartphone seiring dengan peningkatan kepemilikan gawai. Laporan tersebut juga menemukan bahwa 42 persen anak-anak berusia 8 tahun sudah memiliki perangkat komputer tablet mereka sendiri, meningkat tajam dari 7 persen pada 4 tahun yang lalu dan kurang dari 1 persen pada tahun 2011.

Realitas melimpahnya gawai rupanya juga beriringan dengan peningkatan akses terhadap internet. Lagi-lagi saya mengutip Info Komputer yang melansir hasil riset We Are Social, sebuah agensi pemasaran sosial yang rutin memaparkan data jumlah pengguna situs, mobile, dan media sosial dari seluruh dunia. Rupanya populasi digital Indonesia telah mencapai 132,7 juta jiwa, hampir separuh jumlah penduduk yang mencapai 265,4 juta jiwa. 120 juta jiwa dari populasi digital tersebut adalah pengguna mobile. Keberadaan pengguna internet mobile yang besar menyebabkan 79 persen penduduk digital mengakses internet setiap hari.

Angka-angka statistik yang disajikan oleh dua lembaga riset tersebut kiranya berimplikasi pada banyak hal. Dalam konteks komunikasi keluarga, akan sangat sulit bagi orang tua untuk benar-benar memonitor banyak hal yang dilihat dan dilakukan anak-anak mereka. Di sisi lain, kemampuan orang tua memonitor gawai yang dipegang anaknya juga terbatas. Anak-anak, sebagai generasi digital native, umumnya lebih pandai memainkan perangkat berteknologi ini.

Keadaan anak-anak yang tidak terkontrol dalam penggunaan internet menimbulkan akibat negatif. Media Indonesia pada tanggal 7 Februari 2018 memaparkan hasil penelitian End Child Prostitution, Child Pornography, and Traficking of Children for Sexual Purposes (ECPAT) Indonesia yang dilakukan pada 2017 di enam kota. Hasilnya mengerikan, 97% anak pada rentang usia 14-18 tahun terpapar konten pornografi dari internet.

Lalu bagaimana masa depan komunikasi anak-anak kita? Bagaimana implikasinya terhadap komunikasi keluarga? Apabila paparan pornografi terus berlanjut, hampir dapat dipastikan negara kita tercinta ini akan dihuni oleh penduduk yang 97 persennya berpikiran mesum pada 10-15 tahun ke depan. Standar moral yang saat ini kita pedomani mungkin akan bergeser. Bagi saya, pergeseran moral ini merupakan sebuah bencana budaya!

Implikasi pola komunikasi anak-anak kita yang semakin akrab dengan gawainya adalah kemungkinan semakin renggangnya hubungan dalam keluarga di masa depan. Peran orang tua tidak lagi diperlukan dalam komunikasi keluarga masa depan. Sosialisasi pada akhirnya diambil alih oleh gawai. Nilai-nilai yang dipercaya adalah nilai-nilai dari produser konten, yang berarti merupakan nilai-nilai global (baca: Barat).

Ah, namanya terawangan belum tentu benar. Saya hanya berangakat dari kekhawatiran berbasis data yang dirilisi oleh berbagai lembaga riset. Harapan saya yang paling besar adalah peran pemerintah serta masing-masing keluarga untuk menggagalkan terawangan tersebut. Salah satunya dengan membatasi konten-konten internet, dan menunda memberikan gawai terhadap anak, setidaknya hingga mereka cukup dewasa sebagaimana dilakukan bos-bos teknologi seperti Bill Gates dan Steve Jobs.

Gambar: insight.kellogg.northwestern.edu
Read More

Memilih Ban untuk Touring Sepeda


Pada dasarnya bersepeda itu (menurut saya) sangat sederhana. Tinggal dinaiki, digowes, pelan-pelan, sampai tujuan. Akhirnya banyak orang yang mengabaikan detail sepeda, membiarkan sepeda apa adanya, pokoknya bisa digowes sudah cukup. Aturan kesederhanaan bersepeda bisa jadi berbeda ketika ditujukan untuk kegiatan-kegiatan tertentu, misalnya saja touring.

Berdasarkan pengamatan dari beberapa catatan blog, status di Facebook, foto-foto Instagram, hingga video di Youtube, touring sepeda ternyata bermacam-macam. Ada yang melakukan touring antarkota melewati jalur-jalur utama. Ada yang mengutamakan interaksi dengan hal-hal baru, sehingga kegiatan touring dicampur dengan jalan kaki, camping, hingga loading (dipadu dengan moda transportasi lain, seperti kereta, bus, bahkan pesawat). Touring yang mengutamakan interaksi cenderung abai terhadap jarak tempuh (maksudnya tidak harus pergi jauh). Ada juga penggemar touring yang anti-mainstream, tidak suka menempuh jalan "biasa". Mereka ini biasanya gemar blusukan mencari jalur baru.

Pada akhirnya perbedaan tujuan touring akan mempengaruhi pemilihan beberapa parts sepeda, salah satunya ban. Saya contohkan saja ban yang menempel di sepeda saya saat ini, merek Kenda dengan ukuran 700 x 38c atau 700c x 38. Ban ini merupakan bawaan sepeda dari awal beli. Harga barunya tidak terlalu mahal, sekitar 80 ribuan.


Ban Kenda yang Dijual di Bukalapak.com

Awal saya tertarik dengan sepeda Heist ini karena tampilannya yang "gagah". Rupanya tampilan "gagah" ini ditunjang oleh ukuran ban yang terhitung besar. Ukuran ban yang besar tersebut ternyata bukan hanya untuk gagah-gagahan saja, tapi juga berkaitan dengan fungsi yang diembannya.

Pertama, berkaitan dengan diameter ban yang dilambangkan angka 700c. Rupanya 700c merupakan salah satu ukuran ban yang paling besar (bersaing dengan ukuran 29 dan 28). Beberapa orang menyebut ban ini sebagai "ban balap", ada lagi yang menyebutnya "ban becak". Bentuk rampingnya serta besarnya diameter dapat mengurangi kayuhan yang diperlukan untuk menempuh jarak tertentu.

Hanya saja, menurut saya ada dua kelemahan ukuran ban 700c. Ketika menemukan tanjakan, pegowes dituntut untuk mengeluarkan tenaga yang lebih besar (ini hanya pengalaman pribadi, terutama saat dibandingkan dengan ban sepeda lipat). Selain itu, ban jenis ini lebih sulit didapatkan di pasaran dibandingkan dengan ban yang lebih kecil (misalnya ban ukuran 26). Pegowes akan mengalami kesulitan untuk mencari ban pengganti andaikan terjadi pecah ban di jalan.

Kedua, berkaitan dengan lebar tapak yang dilambangkan angka 38. Semakin besar angka belakang yang tertulis di ban, maka semakin lebar tapaknya (kalau ada ban yang bertuliskan 700 x 23c, dapat dipastikan tapaknya sangat kecil). Ukuran tapak akan berpengaruh pada beban kayuhan pegowes. Semakin besar tapak ban, semakin besar energi yang harus dikeluarkan pegowes untuk mengayuh sepedanya.

Lantas kenapa ban ukuran 38 itu masih saya pakai padahal berat dikayuh? Kelebihan ban tapak lebar adalah kemampuannya untuk membawa beban berat, sehingga cocok untuk touring (yang biasanya membawa tas pannier serta rak sepeda). Selain itu, bersepeda touring bagi saya bukan soal kecepatan (ban dengan tapak kecil diperuntukkan untuk meraih kecepatan maksimal). Yang lebih penting menurut saya adalah menikmati suasana perjalanan, dan selamat sampai tujuan.

Ketiga, berkaitan dengan bahan ban yang digunakan. Jujur, saya tidak begitu memahami bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan ban. Kalau kata Darren Alff kebanyakan tipe ban (99%): is going to be a conventional bicycle tire called a "clincher" or sometimes a "wire on". Alff bilang, ada tiga komponen utama penyusun ban "clincher" ini: beadfabric dan rubber.

Bead adalah bagian ban yang bersentuhan dengan rim (atau velg). Fabric merupakan pembentuk body ban. Saat ini, ada dua material pokok bahan fabric: nylon dan kevlar. Bahan kevlar lebih banyak dipakai untuk touring karena kemampuannya menahan tusukan paku, hanya saja harganya lebih mahal (antara 3-4 kali lipat harga bahan nylon). Rubber adalah bagian yang "menyelimuti" fabric, yakni bagian ban yang kita lihat dari sisi luar.

Terakhir, berkaitan dengan motif ban. Semakin kasar pola ban, maka akan semakin berat dikayuh. Kelebihan pola ban yang kasar adalah kemampuannya "mencengkeram" tanah sehingga memudahkan pengendalian. Pola yang tebal juga dianggap "membantu" ketahanan ban terhadap tekstur kasar jalan, sehingga lebih aman dari resiko kebocoran.

Saya masih merasa cukup dengan ban bawaan yang menempel di sepeda Heist. Pegowes yang lain mungkin ada yang sudah menggantinya dengan jenis ban lain. Bagaimana dengan pembaca? Silakan diukur sendiri menyesuaikan dengan kebutuhan dan peruntukannya saja.

Referensi: Alff, Darren. 2013. The Essential Guide to Touring Bicycles. Park City: Bicycle Touring Pro

Foto: allseasoncyclist.com, bukalapak.com

Read More

Pentingnya Persiapan Touring Sepeda


Persiapan jelang kegiatan touring sepeda merupakan hal penting yang harus dilakukan. Durasi bersepeda yang relatif lama, dan jauh dari rumah, mengharuskan pesepeda touring melakukan persiapan secara teliti sampai kepada hal-hal kecil.

Rupanya banyak pesepeda touring yang mengabaikan detail persiapan sebelum melakukan kegiatannya, saya salah satunya. Persiapan yang kurang mendetail pada akhirnya mengganggu perjalanan saya. Kejadian kurang menyenangkan ini saya alami beberapa waktu lalu, ketika melakukan mini-touring menempuh jarak sekitar 90 kilometer.

Tujuan mini-touring hari itu pada dasarnya adalah mengunjungi teman yang bekerja dan indekos di kota sebelah. Saya berencana untuk bersepeda secara santai, berangkat pagi-pagi, numpang menginap di kos teman itu, sekalian berwisata, dan pulang keesokan harinya. Kota sebelah memang terkenal memiliki tujuan wisata menarik dan cocok dijadikan background swafoto bersama sepeda.

Touring hari itu bukan merupakan yang pertama bagi saya. Sebelumnya saya pernah melakukan touring dengan jarak lebih jauh, hanya saja dengan menggunakan sepeda berdiameter roda lebih besar. Hari itu saya menggunakan sepeda lipat dengan diameter roda 20 inchi, menyesuaikan sepeda teman saya.

Saya berangkat setelah sholat Subuh. Jarak 45 kilometer kiranya dapat ditempuh selama sekitar 3 jam. Jadi kira-kira jam 8 pagi saya sudah sampai di sana. Rencana tinggal rencana, dugaan tersebut salah total. Ritme bersepeda yang santai, dan diiringi jeda istirahat yang cukup lama, menjadikan waktu tempuh bersepeda molor. Kira-kira jam 10 pagi saya baru sampai di tujuan.

Kegagalan waktu tempuh di hari pertama ternyata berulang, bahkan lebih parah pada hari kedua, dalam perjalanan pulang. Saya menempuh hari kedua ini tidak sendirianteman saya ingin ikut main ke rumah, sambil merasakan kegiatan mini touring dengan sepeda lipatnya. Ini merupakan pengalaman pertamanya menggowes sepeda dengan jarak yang cukup jauh.

Musibah menimpa saya saat kami sudah menempuh separuh perjalanan. Ban depan tiba-tiba kempes! Saya tidak bawa persiapan apapun menghadapi kejadian ini. Sebenarnya saya punya toolkit yang bisa digunakan menambal ban dalam keadaan darurat. Toolkit ini dulu saya bawa ketika touring dengan jarak yang lebih jauh. Rupanya saya terlalu meremehkan jarak 90 kilometer itu. Untung saja teman saya membawa kunci pembuka ban, cukup membantu di saat seperti itu.


Ternyata ban depan sepeda lipat saya berlubang cukup dalam. Melihat bekas sobeknya, saya kira lubang itu disebabkan pengereman yang cukup kuat di medan yang menurun atau kecepatan tinggi. Tampaknya saya tidak pernah melakukan pengereman ekstrim seperti itu. Belakangan istri saya juga bilang bahwa dia tidak pernah melakukan pengereman sampai membuat ban berlubang.

Saya melakukan sebuah kesalahan dengan tidak memeriksa fungsi dasar sepeda. Harusnya sebelum melakukan touring, dilakukan pemeriksaan hal-hal penting seperti ban, rantai, rem, dan sebagainya. Untung saja touring* ini tidak terlalu jauh dari rumah, dan di sekitar tempat bocor ada bengkel tambal ban. Untungnya lagi tukang tambal ban sepeda itu juga pegowes, sehingga tahu bahwa ban dalam sepeda lebih tipis dari sepeda motor. Kejadian umum ketika pegowes menambalkan bannya pada tukang tambal ban adalah ban yang berlubang, karena proses pembakaran tambalan yang terlalu lama.

Akibat dari musibah ban bocor tersebut jarak 45 kilometer ditempuh selama hampir 6 jam! Ini merupakan rekor terlama bersepeda bagi saya. Repotnya lagi, selama sisa perjalanan saya harus mengayuh sepeda dengan lebih berat, karena pemasangan ban yang kurang presisi sehingga kampas cakramnya menggesek rotor secara terus menerus.


Kami tiba di rumah dengan selamat. Hanya rasa kecapekan luar biasa yang mendera. Teman yang menemani *touring* bahkan langsung balik ke kota tempatnya indekos. Hebatnya, di menempuh jarak tersebut selama 2,5 jam saja! Luar biasa.

Foto 1: www.14degrees.org
Foto 2: Koleksi Pribadi
Read More

Hiruk Pikuk (KPK) Jelang Pilkada


Entah kenapa Pilkada serentak pada tahun-tahun ini membuat saya pesimis bercampur ngeri. Rasa pesimis muncul karena masifnya pemberitaan mengenai korupsi yang dilakukan (calon) kepala daerah, anggota lembaga legislatif dan yudikatif daerah. Adapun kengeriannya berasal dari wacana pengembalian suara rakyat kepada wakil-wakilnya (baca: legislatif) dalam pemilihan kepala daerah dan/atau presiden.

Salah satu berita terkini tentang masifnya pemberitaan korupsi adalah pernyataan ketua KPK, Agus Rahardjo, tentang penerimaan data dari PPATK berupa 368 laporan dugaan korupsi calon kepala daerah. Dari  368 laporan itu, baik KPK maupun PPATK telah menganalisis bahwa 34 calon kepala daerah terindikasi melakukan korupsi. KPK akan mengusut itu dengan hampir seluruhnya berpotensi menjadi tersangka (Media Indonesia, 12/3/2018).


Pernyataan Agus kemudian menjadi polemik di masyarakat. Setidaknya ada dua pendapat menanggapi pernyataan tersebut. Pendapat pertama mendorong agar Agus segera mengumumkan oknum-oknum (calon) kepala daerah yang melakukan korupsi agar segera dilakukan penindakan. Pendapat kedua menyatakan bahwa pada dasarnya Agus, secara sadar atau tidak, telah meletakkan salah satu kaki KPK di ranah politik. Agus dianggap melakukan manuver karena memberikan pernyataan berkait status hukum seorang politisi, bahkan sebelum yang bersangkutan menjadi tersangka.

Pengurangan Ketidakpastian

Pada 1975, Charles Berger dan Richard Callabrese pertama kali mempublikasikan Teori Pengurangan Ketidakpastian (Uncertainty Reduction Theory-URT). Menurut Littlejohn (2009), teori ini merupakan awal rangkaian teori-teori manajemen ketidakpastian. Wood (2004) menyebutkan salah satu aksioma teori ini: “High levels of uncertainty in relationship cause decreases in the intimacy level of communication content. Low levels of uncertainty produce higher of intimacy”.

Menurut URT, ketidakpastian yang terselip dalam pernyataan ketua KPK (tentang siapa yang terlibat korupsi) merupakan sebuah penghalang kedekatan (dengan masyarakat). Agar level kedekatan dengan masyarakat meningkat, ketidakpastian tersebut harus dikurangi (dengan membeberkan 34 oknum calon kepala daerah). Masyarakat tentu akan bertanya-tanya apabila Agus tidak segera menyebutkan nama-nama koruptor itu. Pertanyaan masyarakat akan berubah menjadi kecurigaan seandainya Agus urung menyebutkan 34 nama tersebut: kecurigaan permainan politik.

Resiko yang besar juga menunggu seandainya Agus mengumumkan calon peserta Pilkada yang melakukan tindak pidana korupsi. Pemerintah bersama KPU bahkan telah sepakat untuk meminta KPK menahan diri (Media Indonesia, 13/03/2018), dan menunda pengumuman tersangka setelah Pilkada usai. Pemerintah khawatir situasi politik di daerah menjadi tidak kondusif pascapengumuman, karena berkaitan dengan berbagai figur mereka yang telah menjadi “milik” partai politik, pemilih, dan orang banyak.

Jadi ibarat buah simalakama, Agus dihadapkan pada dua pilihan yang sulit. KPK bisa menjadi populer dan dekat dengan masyarakat, namun menaikkan tensi politik Pilkada. Di sisi lain, KPK juga bisa memilih jalan sunyi dengan menyimpan informasi nama oknum calon kepala daerah korup hingga Pilkada selesai, dengan resiko menjadi sasaran kecurigaan masyarakat karena anggapan bermain politik.

Apapun pilihan yang dibuat oleh Agus, masyarakat saat ini sudah mulai apatis dengan proses politik di negeri ini. Wacana pengembalian sistem pemilihan kepala daerah menjadi seperti zaman Orde Baru, dengan sistem perwakilan, semakin berkembang. Ngeri membayangkannya kalau itu terjadi.

Referensi:
Littlejohn, S.W., & Foss, K.A. 2009. Encyclopedia of Communication Theory. California: SAGE Publications, Inc.
Wood, J.T. 2004. Communication Theories in Action: An Introduction. California: Wadsworth/Thomson Learning

Foto: mediaindonesia.com
Read More