Oct 18, 2017

Memahami Kebohongan Dwi



Beberapa hari terakhir, dunia perguruan tinggi digemparkan dengan kebohongan seorang mahasiswa doktoral Technische Universiteit (TU) Delft di Belanda yang bernama Dwi Hartanto. Masyarakat yang selama beberapa waktu terlanjur percaya dengan klaim prestasi yang dikatakan Dwi, terpaksa harus kecewa. Kebohongan Dwi memang cukup meyakinkan, sehingga beberapa lembaga negara pun turut menaruh kepercayaan kepadanya. Media dalam negeri bahkan sempat menyematkan gelar yang cukup prestisius: The Next Habibie!

Investigasi yang dilakukan oleh beberapa pemangku kepentingan belum menemukan adanya keuntungan finansial dari perbuatan bohong Dwi. Selain itu, belum ada pihak tertentu yang melaporkan adanya kerugian materiil. Pengakuan Dwi muncul setelah adanya laporan dari komunitas ilmuwan yang merasa prihatin dan khawatir adanya efek domino dari perilaku bohong tersebut. Satu-satunya keuntungan yang saat ini dapat diidentifikasi “hanya” sebatas popularitas. Hanya saja, kebohongan Dwi terjadi dalam sebuah komunitas bernama pendidikan tinggi yang harus menjaga marwah kewibawaan ilmu pengetahuan, sehingga persoalan pembohongan publik ini menjadi serius. Kebohongan ini mencederai kepercayaan masyarakat kepada institusi pendidikan tinggi, serupa dengan tercederainya masyarakat terhadap kasus korupsi yang melibatkan aparat penegak hukum.

Fenomena kebohongan Dwi pada dasarnya merupakan bagian dari realitas masyarakat kita; seperti gunung es yang tampak kecil, namun menyimpan bagian besar yang tidak terlihat di bawah permukaan laut. Masyarakat kita sebenarnya memiliki obsesi mendapatkan pengakuan, popularitas, dan eksistensi; sebagian tidak ragu meraihnya dengan beragam cara.

Pada beberapa dekade lalu, obsesi masyarakat akan pengakuan diwujudkan dalam bentuk kepemilikan gelar ningrat. Orang yang memiliki gelar ningrat akan mendapatkan perlakuan berbeda dibanding anggota masyarakat pada umumnya; gelar ningrat menjadi penanda eksistensi. Sayang sekali, gelar ningrat ini hanya bisa didapatkan melalui hubungan darah atau pernikahan. Seseorang yang tidak memiliki kekerabatan ningrat, atau tidak pernah menikah dengan seorang ningrat, tidak akan pernah mendapatkan gelar tersebut. Belakangan, ada kabar yang mengatakan bahwa gelar ningrat bisa dibeli.

Perwujudan obsesi masyarakat akan popularitas bermetamorfosis seiring berjalannya waktu. Saat ini, masyarakat menjadikan gelar akademis, atau gelar agamis sebagai penanda eksistensi. Gelar akademis menjadikan seseorang tampak lebih pintar, sedangkan gelar agamis seakan memisahkan seseorang dengan hasrat duniawi. Uniknya, kedua gelar tersebut seringkali dimunculkan dalam konteks yang kurang sesuai; di surat undangan pernikahan misalnya. Kedua gelar tersebut juga seringkali berhasil melesapkan identitas asli seseorang; misalnya penyebutan Pak Haji atau Bu Hajah alih-alih nama asli empunya gelar.

Gelaran Pilkada yang akan dilakukan dalam waktu dekat, secara telanjang menampilkan fenomena obsesi popularitas dalam masyarakat. Banyak iklan Pilkada yang menampilkan wajah bakal calon pemimpin diiringi gelar akademis atau agamis yang sangat lengkap, seakan-akan ingin menunjukkan tingkat inteligensi dan religiusitas pengiklan. Gelar menjadi sebuah kebutuhan yang tidak terhindarkan. Tidak heran jika institusi agama dan institusi pendidikan tinggi di negeri ini banyak dipenuhi orang yang haus gelar. Alih-alih menjalani segenap proses, pemburu gelar seringkali memilih jalan pintas. Kasus seorang guru besar di Jakarta yang secara ajaib mampu meluluskan ratusan doktor dalam setahun menjadi indikator obsesi masyarakat terhadap gelar akademis.

Sanksi yang dijatuhkan kepada Dwi belum jelas, dan tidak terlalu penting. Kita hanya perlu mengambil hikmah dari kebohongan ini. Pertama; sepandai-pandai manusia berbohong, pada akhirnya akan terbongkar juga dustanya. Tidak ada tindakan kriminal yang sempurna, selalu ada jejak yang bisa diikuti. Kejujuran pada akhirnya harus menjadi satu-satunya pilihan yang mendasari tindakan kita.

Kedua; obsesi popularitas yang berlebihan hanya akan menjadikan seseorang gelap mata dan berpikir irasional. Popularitas bukan satu-satunya tolok ukur kebaikan manusia. Kualitas kehidupan manusia ditentukan oleh kemanfaatan mereka bagi orang lain. Usaha agar bermanfaat bagi manusia lain lebih layak dilakukan, dan secara tidak langsung akan bermuara pada popularitas seseorang.

Terakhir; keberanian mengakui kesalahan adalah perbuatan yang patut dihargai. Seorang anak manusia tidak pernah luput dari kesalahan. Hal yang membedakan antara pemberani dan pengecut adalah tindakan mengakui kesalahan yang diperbuatnya, bukan pura-pura lupa atau berusaha dikasihani. Puncak keberanian kita tentu saja memberikan maaf, dan tetap menegakkan supremasi hukum atas kesalahan yang bersifat perdata atau pidana. Semoga kita mampu mengambil hikmah dari kebohongan Dwi.

Gambar: slate.com
Read More

Sep 6, 2017

Tarik Saja Jok!


Ada sebuah kejadian nyata yang menggambarkan pentingnya komunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Kejadian ini dialami oleh seorang mahasiswa yang sedang menyelesaikan tugas akhir di sebuah perguruan tinggi besar di Indonesia.

Sebagaimana diketahui, proses pengerjaan tugas akhir di Indonesia melibatkan beberapa dosen. Ada dosen yang berperan sebagai pembimbing, ada juga yang berperan sebagai dosen penguji. Dosen pembimbing berperan membantu mengarahkan mahasiswa semester akhir mengerjakan tugas akhir sejak awal pengerjaan proposal. Dosen penguji bertugas untuk melakukan koreksi kesalahan serta memberikan sumbang saran mengenai tema tugas akhir, yang biasanya bermula sejak proposal tugas akhir diseminarkan.

Rupanya interaksi antara mahasiswa dengan dosen (termasuk dosen penguji) tidak hanya melibatkan hal-hal akademis yang bersifat serius. Kadangkala, interaksi mahasiswa-dosen diwarnai dengan beberapa kejadian tidak terduga.

Mahasiswa tingkat akhir, sebut saja Joko, telah menyelesaikan seminar proposal tugas akhir yang melelahkan. Kelelahan fisik dan mental setelah harus memertahankan argumentasi penelitian di hadapan rekan-rekan mahasiswa, dosen pembimbing, dan dosen penguji. Kelelahan fisik dan mental tersebut belum berakhir ketika seminar proposal selesai, masih ada tahapan konsultasi dan revisi sebelum melanjutkan pada tahapan penelitian berikutnya: pengumpulan data.

Joko merasa grogi ketika harus melakukan konsultasi dengan dosen penguji. Gelar professor yang disandang sang dosen penguji ternyata membuat Joko harus sangat berhati-hati dalam berinteraksi. Joko tidak berani menghubungi dosen pengujinya melalui sambungan telepon, dia hanya mengirim pesan singkat (sms). Isi pesan singkat selalu dibaca berulangkali sebelum dikirim; dengan menimbang tingkat kesopanan, tujuan pesan, hingga makna pesan yang mungkin memiliki tafsir berbeda.

Joko menyadari bahwa Sang Profesor memiliki kesibukan yang sangat padat. Sebuah pesan singkat yang dikirimkan kadang-kadang dijawab beberapa hari kemudian. Kegembiraan yang tidak terkira dirasakan Joko ketika Sang Profesor menjawab pesan singkatnya, dan meluangkan waktu konsultasi pertama pada hari yang ditentukan. “Hari Rabu, jam 10 di ruangan Saya,” kata Sang Profesor melalui pesan singkat.

Pada hari Rabu Joko sudah menunggu di lobi kantor satu jam sebelum waktu yang ditentukan. Joko merasa perlu menunjukkan kesan pertama yang baik, dengan tidak datang terlambat, atau membuat dosen penguji menunggu. Posisi duduknya di lobi dibuat semudah mungkin dilihat, sehingga ketika Sang Profesor hendak masuk kantor pasti melihat Joko. Pakaian yang dikenakan Joko berwarna merah, harapannya agar menarik perhatian orang (termasuk Sang Profesor) untuk melihat. Joko teringat teori warna yang dibacanya dari sebuah buku; merah merupakan warna yang paling menarik perhatian, sehingga digunakan untuk lampu lalu lintas, lampu rem, hingga rotator.

Hari ini ruang kantor Sang Profesor sunyi. Tidak ada satu pun mahasiswa yang antre di lobi. Kesunyian kantor ini berlawanan dengan kabar yang sering didengar Joko, bahwa untuk bertemu Sang Profesor harus melewati antrean panjang. Seorang teman pernah menunggu antrean hingga empat jam, untuk konsultasi selama 20 menit.

Joko menghidupkan laptopnya untuk membuang rasa bosan menunggu. Jam tangan Joko sudah menunjukkan angka sepuluh, dan belum ada tanda-tanda sang profesor datang. Sang Profesor dikenal tepat waktu. Saat mengisi kuliah di mana pun sang profesor hampir tidak pernah terlambat. Pernah satu kali Sang Profesor terlambat mengisi kuliah, karena mengantar cucunya ke dokter. Keterlambatan yang masih bisa ditoleransi karena adanya situasi darurat, apalagi Sang Profesor waktu itu hanya terlambat selama 15 menit saja.

Setengah jam berlalu sejak Joko menghidupkan laptopnya. Dia mulai cemas. Laptopnya ditutup, dan dimasukkan tas. Joko beranjak menuju pintu masuk ruangan Sang Profesor. Pintu itu terbuat dari kaca, mirip dengan pintu masuk bank atau minimarket. Di dalam ruangan berpintu kaca itu terdapat lobi dan dua ruangan lebih kecil. Salah pintu satu ruangan bertuliskan nama Sang Profesor, sedangkan pintu yang bersebelahan bertuliskan nama yang tidak dikenal Joko. Di pintu ruangan profesor tampak tergantung sebuah kunci. Apakah Sang Profesor sudah datang?

Joko mencoba mendorong pintu kaca itu, tapi tak bergerak. Terkunci. Mungkin tadi pagi ada OB yang membersihkan ruang Sang Profesor dan meninggalkan kunci ruangan di pintu, kemudian mengunci pintu kaca. Joko pun kembali ke lobi, dan membuka laptop.

Satu jam sudah berlalu. Belum ada tanda-tanda Sang Profesor datang. Joko kembali beranjak ke pintu kaca, khawatir tidak melihat Sang Profesor masuk ruangan. Pintu kaca masih terkunci, tidak bisa didorong. Pintu ruangan juga masih tertutup dengan kunci tergantung. Apakah ada kondisi darurat yang mengakibatkan Sang Profesor tidak bisa hadir hari ini? Apakah Sang Profesor ada di ruangan lain? Berbagai praduga mulai muncul di pikiran Joko.

Waktu sudah menunjukkan pukul 13.00 siang. Joko sudah berulangkali memeriksa ruangan Sang Profesor, dan masih sepi. Joko memutuskan untuk mengirim pesan singkat, sebelum mengakhiri sesi menunggu pada hari ini. Dia yakin Sang Profesor berhalangan hadir. Sebelum pulang, Joko mencoba mencari tahu masalah yang dihadapi Sang Profesor. Joko juga ingin memastikan waktu konsultasi berikutnya.

Joko mengambil telepon genggam di kantong celananya. Dia mengirim pesan singkat tentang permintaan maaf atas kelancangan mengirim pesan, sekaligus menanyakan ketidakhadiran Sang Profesor hari itu. Tanpa menunggu jawaban dari Sang Profesor, Joko langsung menuju parkiran motor, dan memacu kendaraannya.

Di perjalanan pulang, telepon genggamnya berbunyi, pertanda ada pesan masuk. Seketika Joko meminggirkan kendaraannya untuk melihat pesan itu. Dia berharap jawaban dari Sang Profesor.

“Saya sudah di ruangan dari jam 08.00 dan menunggu Anda. Sekarang Saya pulang.” Jawaban pesan singkat Sang Profesor yang membuat Joko deg-degan. Joko langsung menjawab pesan tersebut, dengan permintaan maaf. Joko kemudian menjelaskan detail proses menunggunya, termasuk anak kunci yang dilihatnya menggantung di ruangan Sang Profesor. Joko berharap tidak mendapatkan murka, karena dianggap tidak menepati janji konsultasi yang telah disepakati.

Tidak diduga Sang Profesor membalas pesan singkat Joko dengan cepat. “Mahasiswa akhir kok tidak komunikatif, hehehe.” Awalan pesan singkat profesor itu sudah membuat Joko lega. “Kalau ada kunci tergantung di pintu ruangan, berarti Saya ada di dalam,” jelas Sang Profesor. Ah, betapa menyesalnya Joko. Ternyata selama menunggu tadi Sang Profesor ada di dalam. Tapi kenapa pintu kacanya tidak bisa didorong, terkunci?

Sepanjang perjalanan pulang, pikiran Joko terpecah menjadi dua. Di satu sisi, dia lega Sang Profesor tidak marah. Di sisi lain, Joko merasa heran dan penasaran dengan pintu kaca yang terkunci itu.

Tiba-tiba Joko menyadari kesalahan yang mungkin terjadi. Kenapa pintu kaca tadi tidak ditariknya? Jangan-jangan desain bukaan pintu kaca itu keluar, bukan ke dalam? Kalau itu benar terjadi, berarti ada sebuah kesalahan komunikasi, yang mengakibatkan Joko harus menunggu berjam-jam. Kesalahannya adalah anggapan bahwa semua pintu didesain dengan bukaan ke dalam, sehingga untuk membukanya harus didorong.

Joko betul-betul menyesal tidak mencoba menarik pintu kaca itu. Joko juga menyesalkan, kenapa sebuah universitas yang besar tidak mendesain pintunya secara baik. Setidaknya, pintu kaca seperti itu diberi tulisan “Tarik”, “Dorong”, atau “Geser”, sehingga tidak membingungkan orang-orang yang hendak membukanya.

Saya hanya tertawa saja mendengar kisah si Joko. Katanya, teman-teman sekelas juga menertawakan kejadian itu. Pengalaman pintu kaca juga pernah dialami teman sekelas, namun mereka tidak sampai batal konsultasi karena kesalahan ini. Mereka cepat menyadari dengan mencoba menarik pintu. Joko…Joko, lain kali TARIK saja ya. Kalau tidak bisa coba di GESER. Pokoknya jangan terburu-buru pulang.

Read More

Mar 6, 2017

Akhir Sang Sosiopat


Alone at last, pada akhirnya manusia akan hidup sendiri, menghadapi kematian tanpa seorangpun teman. Barangkali seperti itulah pemikiran seorang detektif legendaris, jenius, dan sering mengaku sosiopat: Sherlock Holmes. Nyatanya pada usianya yang ke-93, Sherlock benar-benar sendiri tanpa keluarga, setidaknya menurut definisi saya sebagai orang Indonesia yang komunal. Mycroft (sang kakak yang sosiopat juga?) sudah meninggal, dr. Watson yang sehari-hari menulis penyelidikan dan penyidikannya, Mary Watson, serta Mrs. Hudson yang menjadi induk semang di 221B Baker Street, juga telah mendahului ke alam baka. Di akhir hidupnya, Holmes hanya ditemani oleh Munro (sang asisten rumah tangga) dan putranya, Roger.

Website Wikihow menjelaskan bahwa di bidang kesehatan mental, sosiopat merupakan sebuah kondisi yang menghambat seseorang sehingga tidak mampu beradaptasi dengan standar etika dan perilaku yang berlaku dalam komunitasnya. Seorang sosiopat tidak mampu merasakan penyesalan atau rasa bersalah, dan sering tidak peduli saat tindakannya mungkin membahayakan orang lain. Pertanyaannya: Benarkah Holmes seorang sosiopat? Apabila terbukti sosiopat, bagaimana dia menghadapi masa tuanya?

Gambaran akhir kehidupan manusia diceritakan dengan detail dalam film Mr. Holmes (2015). Kesengajaan Sherlock Holmes memutuskan menyendiri seumur hidupnya, menurut saya tidak tampak dalam film tersebut. Alih-alih tangguh, sosok tua Holmes malah terlihat sangat rapuh. Gambaran seorang tua hidup sendirian tanpa keluarga di akhir hidupnya, bagi saya—mungkin dirasakan juga oleh sebagian besar masyarakat Indonesia yang berkarakter komunal—adalah sebuah kengerian yang luar biasa. Sosok asisten rumah tangga (Munro dan Roger), atau perawat orang jompo tidak banyak memperbaiki kengerian tersebut, meskipun kepada merekalah Holmes sangat bergantung.

Asisten rumah tangga, pekerja sosial di panti jompo, atau barangkali perawat di rumah sakit, sebaik apapun, tetaplah bukan keluarga dalam arti sebenarnya. Ikatan yang terjadi, kalaupun ada, merupakan kategorikal keluarga alternatif. Bell (dalam Suleeman, 2004) mengkategorikan ikatan ini sebagai fictive kin, yakni menganggap seseorang atau kelompok sebagai keluarga. Ikatan ini merupakan alternatif terakhir setelah tidak berfungsinya kerabat dekat (conventional kin) dan kerabat jauh (discretionary kin). Fungsi keluarga kerabat dekat dan kerabat jauh yang cenderung sosial, tampaknya tidak banyak dijumpai dalam bentuk kerabat fiktif.

Film Holmes menggambarkan adanya transisi fungsional kerabat fiktif. Motif ekonomi yang semula berperan besar dalam relasi antara Mr. Homes dan Munro, tampaknya mulai mencair dengan kehadiran sosok anak-anak Roger. Roger yang merupakan pengagum berat Holmes, sekaligus anak dari Munro, menjadi pengikat antara dua orang asing menjadi sebuah keluarga. Holmes bahkan tidak segan-segan mewariskan seluruh hartanya kepada mereka berdua; karena pada akhirnya hanya merekalah keluarganya.

Pada dasarnya, keluarga merupakan entitas penting dalam masyarakat dan sangat mempengaruhi fungsi dan kesejahteraan mental dan fisiologis mereka (Koerner, 2014). Hidup tanpa keluarga hanya akan mengurangi kualitas kesejahteraan mental dan fisiologis seseorang. Seorang tua berumur 93 tahun seperti Mr. Holmes membutuhkan keluarga lebih dari sebelumnya. Eitzen (dalam Soe'oed, 2004) mengatakan bahwa pada saat seseorang menjadi tua, dia harus belajar sebagaimana anak kecil belajar menjadi remaja. Seorang lanjut usia harus belajar bergantung kepada orang lain, belajar untuk tidak terlalu produktif, dan menghabiskan waktu mereka untuk waktu-waktu santai. Proses belajar menjadi orangtua akan terasa sangat berat tanpa adanya keluarga di sisinya. Pada titik inilah pengakuan Holmes bahwa dirinya seorang sosiopat runtuh.

Ada sebuah scene di akhir film yang cukup menggambarkan pentingnya institusi keluarga. Holmes, bersama Roger, duduk di bibir pantai sambil menata beberapa batu (nisan?) membentuk formasi lingkaran. Holmes menyebut beberapa nama, di antaranya Mycroft, Watson, dan Mary. Batu-batu itu merupakan gambaran orang-orang yang semasa hidup bersama-sama Holmes, namun kini mendahuluinya. Batu-batu itu juga menggambarkan bahwa ikatan keluarga dibawa hingga manusia meninggal, adapun warisan yang tertinggal (Munro dan Roger) akan membentuk sebuah entitas keluarga berbeda lagi. Batu-batu itu menjelaskan bahwa dalam perspektif masa lalunya Holmes selalu mengenang keluarga. Kehadiran Roger di tempat itu secara ikonik menunjukkan kepedulian Holmes terhadap transmisi nilai, yang tentu saja merupakan bagian dari perspektif masa depan mengenai identitas keluarga.

Realitas dunia yang kita tinggali saat ini menunjukkan adanya sebuah bonus demografi. Konon katanya, demografi kebanyakan negara (dengan angka harapan hidup yang semakin tinggi) sudah mulai menunjukkan penduduk yang menua. Kategori penduduk usia lanjut akan merupakan sumber masalah apabila tidak ditangani dengan baik. Tidak banyak orang yang mempunyai kecerdasan seperti Holmes. Kebanyakan orang usia lanjut membutuhkan komunikasi keluarga yang humanis, selain tentu saja perlu bantuan lebih dalam menjalani akhir hidupnya. Tindakan akademis dan praktis menghadapi fenomena bonus demografi ini harus secepat mungkin dilakukan.

Foto: heyuguys.com

Referensi:
Koerner, A. F., 2014, Investigasi Ilmiah atas Komunikasi Keluarga dan Pernikahan (D. S. Widowatie, Pen.). Dalam C. R. Berger, M. E. Roloff & D. R. Roskos-Ewoldsen (Ed.), Handbook Ilmu Komunikasi. Bandung: Nusa Media.

Soe'oed, R. D. F., 2004, Proses Sosialisasi. Dalam T. O. Ihromi (Ed.), Bunga Rampai Sosiologi Keluarga. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Suleeman, E., 2004, Hubungan-hubungan dalam Keluarga. Dalam T. O. Ihromi (Ed.), Bunga Rampai Sosiologi Keluarga. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Read More

Feb 2, 2017

Meneliti Keluarga


Keluarga merupakan institusi yang terdekat dengan kita, manusia. Seumur hidup manusia akan selalu bersama keluarga. Saya belum pernah menemukan manusia yang bisa hidup tanpa keluarga, seperti Tarzan misalnya. Bahkan sebenarnya Tarzan pun memiliki keluarga, meskipun gorila.

Sebagai institusi terdekat dengan manusia, meneliti keluarga saya kira sangat penting. Meskipun tentu saja dengan resiko yang cukup besar, sebagaimana saya ceritakan nanti. Yang jelas keluarga itu memiliki kekhasan masing-masing, sehingga ada aspek-aspek yang selalu berbeda antara satu keluarga dengan keluarga lainnya, meskipun mereka berada dalam rumpun keluarga besar yang sama.

Dalam meneliti keluarga, terdapat berbagai perspektif yang bisa diambil. Kalau kita menggunakan perspektif sosiologi misalnya, kita akan cenderung melihat struktur keluarga dan perubahan struktur tersebut seiring dengan perjalanan waktu. Misalnya saja, membandingkan antara struktur keluarga beberapa dekade silam dengan struktur keluarga moderen.

Apabila kita meneliti keluarga dari perspektif ilmu komunikasi, fokus pokoknya tentu adalah interaksi. Karena ilmu komunikasi masih merupakan ‘turunan’ sosiologi, tentu aspek struktur keluarga masih menjadi bagian kajiannya. Jadi, nantinya peneliti komunikasi akan melihat interaksi dalam keluarga yang dikaitkan dengan struktur keluarga tersebut.

Di awal saya mengatakan resiko meneliti keluarga yang cukup besar. Bukannya menakut-nakuti, tapi resiko ini benar adanya. Bayangkan saja, misalnya kita adalah kelompok orang yang akan diteliti keluarganya. Misalnya saja kita adalah pasangan sejenis yang diam-diam menikah, kemudian ada peneliti yang tertarik dengan kita. Pertanyaannya: Apakah kita bersedia berterus terang mengenai relasi dalam keluarga kita? Seringkali jawabannya tidak.

Resiko memasuki dunia keluarga adalah menjadikan peneliti bagian integral dalam keluarga tersebut. Istilahnya menjadi bagian emik atau insider. Butuh ketekunan dan waktu yang lama untuk menjadi bagian dari keluarga.

Sebenarnya sah-sah saja, kita tinggal wawancara atau memberikan kuesioner kepada sebuah atau beberapa keluarga. Namun, tentu saja data yang dihasilkan tidak terjamin valid. Rentan terjadi kebohongan atau usaha menutupi realitas terjadi.

Nah setelah mengetahui resiko dan menariknya meneliti keluarga, masih ada yang berminat? Minat adalah pilihan.

Foto: dakwatuna.com
Read More

Jan 2, 2017

Menggunakan Embed Fonts


Orang yang sering terlibat dalam pembuatan presentasi (menggunakan MS. Powerpoint), dan sering menggunakan berbagai piranti komputer dalam melakukan presentasinya pasti sudah tahu apa itu fasilitas "embedded fonts." Fasilitas ini konon sudah ada di MS. Office sejak lebih dari 10 tahun lalu. Meskipun fasilitas embedded fonts sudah lama ada pada MS. Office, namun tampaknya masih ada sebagian pengguna yang abai. Enak saja mereka mendesain Powerpoint dengan berbagai font, menyimpannya dengan "ctrl + S", lalu dimasukkan USB flashdisk. Pengguna Powerpoint baru ribut ketika membuka berkas Powerpoint-nya di komputer lain, dan menyadari betapa huruf yang tadinya rapi menjadi berantakan.

Setelah diadakan penyelidikan dan penyidikan, ternyata komputer baru yang digunakan oleh pengguna Powerpoint tadi tidak memiliki koleksi font sebanyak komputer yang digunakan mendesain presentasi. Walhasil, font yang digunakan di awal digantikan dengan font yang ada di komputer. Jadilah berantakan.

Nah agar desainnya tidak berantakan, tentu ada cara yang bisa dilakukan oleh pembuat presentasi Powerpoint. Pertama, pembuat presentasi bisa menggunakan font yang standar; artinya font yang dimiliki oleh setiap komputer di dunia. Saya tidak tahu juga font standar komputer dunia itu apa, tapi biasanya di setiap komputer ada font Times New Roman (font standar yang banyak digunakan untuk mengerjakan tugas akhir atau skripsi). Resikonya, Powerpoint yang dibuat menjadi standar saja, alias kurang menarik.

Solusi kedua adalah menggunakan fasilitas embedded fonts, yakni menyertakan font yang digunakan pada proses desain Powerpoint ke dalam file. Tentu saja, dengan adanya font ini ukuran file menjadi sedikit besar. Caranya adalah (Powerpoint 2016) klik File > Option > Save; lalu akan muncul tampilan seperti gambar di bawah ini.


Klik hingga kotak yang saya lingkari merah itu menjadi tercentang. Ada dua pilihan dalam embed fonts, bisa pilih "Embed only the characters used in the presentation," atau "Embed all characters." Apabila ragu-ragu, lebih baik gunakan pilihan yang kedua. Aman!

Kadang-kadang, embed fonts tidak selalu berhasil. Biasanya ketidakberhasilan embed fonts ditandai dengan gambar seperti berikut ini.


Kalaupun kita mencoba klik OK, file Powerpoint memang tersimpan, tapi pada dasarnya font yang bersangkutan tidak tersimpan. Salah satu penyebabnya ternyata font tersebut tidak termasuk TrueType Font. Apa sih TrueType Font?

Menurut Kusrianto dan Adinata (2015), dalam memanfaatkan fitur Office ada tiga jenis font yang perlu diketahui. Pertama, PostScript Font. Disebut juga Type 1, atau Adobe Font yang dibuat menggunakan Postscript page description language. Font ini memiliki dua bagian, yaitu font tampilan layar (Screen Font) dan font untuk pencetakan (Printer Font). Keduanya berfungsi bersamaan. Ketika tampil di monitor, maka yang berfungsi adalah screen font, sedang saat dokumen dicetak, maka yang berfungsi adalah printer font. PostScript font dapat digunakan pada sistem operasi seperti OSX atau Windows. Pada program keluaran Adobe, semua menggunakan Adobe Font maupun Type 1 Font.

Kedua, TrueType Font. Adalah font standar untuk sistem operasi Windows serta produk-produk Microsoft seperti Office, juga program-program under-Windows, kecuali produk Adobe. Awalnya diproduksi oleh Apple, tetapi teknologinya dibeli Microsoft. Sekarang dapat dipergunakan, baik pada sistem OSX maupun Windows. TrueType Font hanya memiliki satu file, baik untuk Screen Font maupun Printer Font. Dalam file tersebut sudah termasuk karakter bold, italic, maupun bold italic, sementara pada postscript, masing-masing tersimpan pada file tersendiri.

Ketiga, OpenType Font. Adalah font jenis terbaru yang dibuat join antara Microsoft dan Adobe. Jenis font ini dapat diperlakukan seperti PostScript Font maupun TrueType Font. Pada program yang berbasis Windows, OpenType Font dianggap sebagai TrueType Font. OpenType dan TrueType hanya terdiri atas satu file yang mewakili tampilan layar maupun untuk dicetak. Demikian juga, dalam sebuah file sudah mengandung 65000 jenis karakter, termasuk bold, italic, expert character set, seperti ligatures, smallcaps, extra accent, pecahan, dan karakter spesial lainnya.

Seperti yang saya katakan sebelumnya, hanya TrueType Font yang dapat disimpan secara embed. Lalu bagaimana membedakan masing-masing jenis font tersebut? Lihat gambar berikut.


Jadi, di depan setiap font yang kita gunakan selalu ada lambang jenis font tersebut.


Jadi, kalau mau menggunakan metode embed font, pilihlah huruf-huruf TrueType Font. Namun bila sangat terpaksa harus menggunakan jenis huruf lainnya, bisa digunakan metode lain; yakni dengan menggunakan tool gratis bernama Text to Outline.

Untuk cara menggunakan tool Text to Outline, lanjutkan dengan mengikuti LINK INI

Gambar: products.office.com, screen capture, fp.um.my, thepowerpointblog.com

Referensi:
Kusrianto, A., & Dinata, Y.M. 2015. Microsoft Word untuk Buku Ajar. Jakarta: ElexMedia Computindo
Read More

Dec 23, 2016

Komunikasi Ibu


Mencermati pemberitaan media massa, semakin banyak perilaku menyimpang, kekerasan, dan kriminalitas yang melibatkan kelompok remaja. Ada berbagai motif yang mendasari perilaku menyimpang remaja tersebut; mulai dari ekonomi, psikologi, hingga ikut-ikutan. Apabila ditelusuri lebih lanjut, sebenarnya ada fenomena sosial lebih rumit yang melatarbelakangi perilaku menyimpang remaja; salah satunya adalah kegagalan fungsi komunikasi keluarga.

Keluarga memberikan pengaruh besar dalam perkembangan kejiwaan manusia. Manusia pertama kali belajar mengenai nilai-nilai kehidupan dari keluarga. Keluarga juga menjadi lembaga kontrol sosial pertama bagi seorang anak. Nilai-nilai yang dipercayai dan dijalani manusia sepanjang hidupnya juga sebagian besar berasal dari keluarga. Pada kenyataannya, pelaku kriminal biasanya juga berasal dari keluarga yang memiliki masalah dalam penanaman nilai-nilai positif.

Kurun 20 tahun terakhir telah banyak yang berubah dalam institusi keluarga. Salah satu faktor pendorong perubahan institusi keluarga adalah keberhasilan Program Keluarga Berencana. Saat ini ukuran keluarga secara umum menjadi semakin kecil, yakni hanya terdiri dari orangtua dengan sedikit anak. Berbeda pada dua dekade sebelumnya, di mana umumnya keluarga memiliki lebih dari 4 anak. Menurut pengamatan Effendi dan Sukamdi (1994) struktur keluarga pun telah mulai bergeser dari keluarga luas (extended family) menjadi keluarga batih (nuclear family), terutama di daerah perkotaan.

Pergeseran struktur keluarga secara logika seharusnya berkorelasi positif dengan kemudahan penanaman nilai-nilai dalam keluarga. Namun kenyataannya tidak sesederhana itu. Apabila kita mengamati pemberitaan media massa, justru seakan menolak hipotesis kemudahan penanaman nilai-nilai dalam keluarga. Pemberitaan media massa semakin riuh dengan realitas kegagalan institusi keluarga dalam menanamkan nilai-nilai positif kepada generasi muda. Kenapa bisa begitu?

Ekonomi dan Karir

Struktur keluarga yang kecil berkorelasi positif dengan perbaikan tingkat ekonomi. Orangtua dengan jumlah anak yang lebih sedikit akan memiliki lebih banyak sisa uang dari penghasilan mereka. Setelah kebutuhan primer terpenuhi, sisa uang tersebut juga digunakan untuk memenuhi kebutuhan sekunder dan tersier. Keluarga modern saat ini tentu sudah biasa dengan keadaan rumah yang dilengkapi dengan kebutuhan primer dan sekunder seperti home theatre, saluran televisi berbayar, internet, hingga kendaraan dan gadget untuk masing-masing penghuni rumah.

Tingkat ekonomi yang semakin baik juga akan membawa kesadaran baru bagi masing-masing anggota keluarga. Seorang ibu yang dahulu lebih banyak berfungsi secara sosial, dengan momong anak di rumah, saat ini sudah memiliki lebih banyak kegiatan di luar rumah. Fungsi momong anak digantikan oleh PAUD, tentu saja dengan mengeluarkan sejumlah uang untuk membayar SPP-nya.

Fungsi sosial ibu lainnya yang sudah banyak bergeser adalah kegiatan perawatan rumah. Saat ini, banyak keluarga modern sudah memiliki asisten rumah tangga untuk kegiatan perawatan rumah. Bahkan, kadangkala lebih dari satu asisten rumah tangga. Apabila anak dari keluarga modern ada yang masih bayi, akan bertambah lagi dengan adanya baby sitter yang 24 jam menjaga bayi mereka.

Pergeseran fungsi sosial ibu, dari domestik ke publik pada akhirnya menurunkan intensitas tatap muka dengan anggota keluarga lainnya. Apabila tatap muka merupakan salah satu indikator terjadinya komunikasi keluarga yang baik, maka dengan berkurangnya intensitas tatap muka akan memperburuk komunikasi keluarga. Muara dari buruknya komunikasi keluarga adalah gagalnya penanaman nilai berbasis keluarga; digantikan dengan nilai-nilai lain yang memiliki intensitas komunikasi lebih tinggi: melalui media, teman sebaya, atau sekolah tempat anak belajar.

Peran Ibu

Beberapa penelitian menempatkan ibu sebagai sosok penting dalam komunikasi keluarga (Kirkman et al., 2005). Anak seringkali lebih terbuka berkomunikasi mengenai sebuah isu sensitif kepada ibu dibandingkan kepada ayah, misalnya saja ketika mereka mendiskusikan masalah seksualitas. Sementara sosok ayah seringkali hanya dilibatkan dalam komunikasi keluarga yang bersifat umum.

Realitas keluarga modern memang menjadi tantangan tersendiri bagi peran komunikasi seorang ibu. Meskipun begitu, ibu tetap harus memiliki kepekaan komunikasi. Biasanya sebuah peristiwa besar, seperti perilaku menyimpang remaja, tidak terjadi secara tiba-tiba. Ada gejala-gejala dini yang bisa diamati, terutama oleh orang terdekat pelaku. Tanpa mengecilkan peran ayah, ibu merupakan sosok yang paling dekat dengan anak.

Sudah saatnya ibu tidak lagi menggantungkan dan mempercayakan komunikasi anaknya terhadap berbagai perangkat media yang ada. Justru ibu harus mewaspadai dan memahami betul resiko setiap fasilitas media yang ada di rumah. Jangan sampai seorang ibu terkesan sudah memenuhi kebutuhan anaknya; dengan menyekolahkan pada sekolah termahal, membelikan gadget tercanggih, memberikan fasilitas internet hingga saluran televisi berbayar, tapi lupa bahwa komunikasi yang paling bermakna adalah tatap muka.

Inilah yang menjadi tugas utama ibu, karena ibu bukan lagi orang nomor dua setelah ayah. Saat ini sosok ibu sudah menjadi kepala komunikasi rumah tangga. Segala inisiatif komunikasi bergantung pada sosok ibu. Selamat hari ibu!

Foto: citizen6.liputan6.com
Read More

Oct 9, 2016

Sehat Jiwa Melalui Komunikasi Keluarga


Tanggal 10 Oktober ini diperingati sebagai Hari Kesehatan Jiwa. Meskipun tidak semeriah hari nasional yang lain, namun penting untuk menjadikan hari ini sebagai momentum evaluasi pembangunan kesehatan secara holistis. Sebagaimana ungkapan bahasa Latin men sana in corpore sano, yang kurang lebih menyatakan pentingnya keseimbangan antara kesehatan jiwa dan kesehatan raga. 

Pada kenyataannya, perhatian terhadap kesehatan jiwa dapat dikatakan masih kurang. Tekanan pekerjaan yang membuat stress, kecenderungan menutup diri, hingga kegalauan karena putus cinta dianggap sesuatu yang biasa saja. Ketika seseorang telah mengidap skizofrenia, barulah ada tindakan yang berarti untuk menanganinya.

Seseorang yang memiliki jiwa sehat biasanya merasa nyaman dengan diri sendiri ataupun orang lain. Ketika ada permasalahan dalam hidup, orang yang jiwanya sehat mampu mengatasi tanpa terlarut terlalu dalam. Sebaliknya, orang-orang yang mengalami gangguan jiwa biasanya selalu dihantui masalah dalam kehidupannya. Bahkan gangguan jiwa ini menurut Freud dapat mengakibatkan simptom fisik seperti gangguan kerja jantung, nyeri kepala, atau mungkin gangguan tidur.

Peran Komunikasi Keluarga

Tidak ada yang dapat menafikan peran keluarga dalam kehidupan manusia. Termasuk di dalam peranan keluarga adalah terhadap orang dengan gangguan jiwa. Beberapa penelitian menyatakan betapa keluarga memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan jiwa seseorang. Penelitian Santosa (1992) misalnya mengatakan bahwa kecenderungan neurotik remaja berhubungan dengan ukuran keluarganya. Remaja yang memiliki keluarga besar cenderung memiliki kecenderungan penyakit neurotik dibanding mereka yang berasal dari keluarga kecil. Hal ini disebabkan oleh pola komunikasi yang ditengarai berbeda antara keluarga besar dan keluarga kecil. Keluarga besar diindikasikan seringkali melakukan komunikasi yang bersifat otoriter demi mencegah terjadinya kekacauan yang ditimbulkan oleh banyaknya sistem interaksi di dalam keluarga.

Penelitian lain yang melihat peranan keluarga dalam kesehatan jiwa seseorang dilakukan juga oleh Hidayat et al. (1996). Menurut penelitian ini kepencemasan sosial anak tumbuh melalui proses belajar kognitif sosial. Faktor-faktor yang menjadi sumber adalah kepencemasan sosial orang tua, praktek pengasuhan, dan keharmonisan keluarga. Dengan kata lain, ada faktor kurangnya komunikasi dalam keluarga yang berperan dalam munculnya kepencemasan sosial anak.

Menilik dua penelitian tersebut di atas, menjadi penting mewujudkan pelibatan keluarga dalam proses pencegahan maupun penanganan gangguan jiwa. Pada proses pencegahan gangguan jiwa, pelibatan keluarga dapat diwujudkan melalui promosi kesehatan. Promosi kesehatan ternyata dapat menjadi pembeda dalam peningkatan pengetahuan dan sikap tentang deteksi sakit jiwa (lihat Susanto et al., 2006). Penting juga diberikan pengertian mengenai gejala dini sakit jiwa, serta bagaimana penanganan awal dalam lingkungan keluarga, serta pola komunikasi yang dapat dilakukan untuk mencegah penyakit yang lebih parah. Untuk penanganan gangguan jiwa, keluarga hendaknya memahami bagaimana penanganan pasien dengan gangguan jiwa berat. Alih-alih dipasung, pasien yang mengalami gangguan jiwa berat sebaiknya dirujuk pada rumah sakit terdekat sehingga mendapatkan penanganan yang memadai. Tata urutan penanganan hingga pasien sakit jiwa sampai di rumah sakit tidak mungkin dilakukan apabila tidak dipahami prosedurnya oleh keluarga pasien. Sekali lagi, komunikasi keluarga yang baik sangat dibutuhkan untuk menjalin kesepahaman dalam penanganan pasien yang mengalami sakit jiwa berat.

Komunikasi Keluarga Sehat, Jiwa Sehat


Secanggih apapun teknologi komunikasi dan informasi, tetap tidak dapat menggantikan komunikasi tatap muka. Pun demikian halnya dengan komunikasi tatap muka dalam keluarga, tidak dapat tergantikan oleh teknologi apapun. Menjadi penting bagi anggota keluarga untuk menciptakan situasi komunikasi tatap muka yang nyaman. Seketika ada permasalahan, anggota keluarga dapat mengomunikasikannya. Sehingga, saat ada salah satu anggota keluarga yang terkena penyakit jiwa, dapat segera dideteksi secara dini.

Kunci komunikasi keluarga yang sehat salah satunya adalah budaya menghargai (lihat Andayani, 2002). Termasuk di dalamnya adalah ungkapan-ungkapan ekspresif terhadap hal-hal baik yang dilakukan anggota keluarga. Akhirnya, muara dari peringatan Hari Kesehatan Jiwa adalah semangat untuk menjadikan keluarga sebagai tempat berangkat serta tempat kembali bagi anggota keluarganya. Sehingga, tidak ada lagi pasien sakit jiwa yang gagal dideteksi secara dini atau mendapat perlakuan salah dalam proses penanganan serta penyembuhannya. Semoga.

Referensi:

Andayani, B. (2002). Pentingnya Budaya Menghargai dalam Keluarga. Buletin Psikologi, 10(1), 1-8.

Hidayat, R., Santoso, S. W., & Indati, A. (1996). Anteseden Perkembangan Diri Kepencemasan Sosial. Jurnal Psikologi, 23(1), 21-32. doi: 10.22146/jpsi.10039

Santosa, T. (1992). Pengaruh Keluarga Besar terhadap Perkembangan Kecenderungan Neurotik pada Remaja. Berita kedokteran masyarakat, 8(2), 89-94.

Susanto, J., Prabandari, Y. S., & Sumarni. (2006). Promosi Kesehatan pada Keluarga Penderita dalam Deteksi Awal Kekambuhan Skizofrenia Pascapengobatan. Berita kedokteran masyarakat, 22(2), 61-67.

Foto: dy0719.com

Read More