Mar 6, 2017

Akhir Sang Sosiopat


Alone at last, pada akhirnya manusia akan hidup sendiri, menghadapi kematian tanpa seorangpun teman. Barangkali seperti itulah pemikiran seorang detektif legendaris, jenius, dan sering mengaku sosiopat: Sherlock Holmes. Nyatanya pada usianya yang ke-93, Sherlock benar-benar sendiri tanpa keluarga, setidaknya menurut definisi saya sebagai orang Indonesia yang komunal. Mycroft (sang kakak yang sosiopat juga?) sudah meninggal, dr. Watson yang sehari-hari menulis penyelidikan dan penyidikannya, Mary Watson, serta Mrs. Hudson yang menjadi induk semang di 221B Baker Street, juga telah mendahului ke alam baka. Di akhir hidupnya, Holmes hanya ditemani oleh Munro (sang asisten rumah tangga) dan putranya, Roger.

Website Wikihow menjelaskan bahwa di bidang kesehatan mental, sosiopat merupakan sebuah kondisi yang menghambat seseorang sehingga tidak mampu beradaptasi dengan standar etika dan perilaku yang berlaku dalam komunitasnya. Seorang sosiopat tidak mampu merasakan penyesalan atau rasa bersalah, dan sering tidak peduli saat tindakannya mungkin membahayakan orang lain. Pertanyaannya: Benarkah Holmes seorang sosiopat? Apabila terbukti sosiopat, bagaimana dia menghadapi masa tuanya?

Gambaran akhir kehidupan manusia diceritakan dengan detail dalam film Mr. Holmes (2015). Kesengajaan Sherlock Holmes memutuskan menyendiri seumur hidupnya, menurut saya tidak tampak dalam film tersebut. Alih-alih tangguh, sosok tua Holmes malah terlihat sangat rapuh. Gambaran seorang tua hidup sendirian tanpa keluarga di akhir hidupnya, bagi saya—mungkin dirasakan juga oleh sebagian besar masyarakat Indonesia yang berkarakter komunal—adalah sebuah kengerian yang luar biasa. Sosok asisten rumah tangga (Munro dan Roger), atau perawat orang jompo tidak banyak memperbaiki kengerian tersebut, meskipun kepada merekalah Holmes sangat bergantung.

Asisten rumah tangga, pekerja sosial di panti jompo, atau barangkali perawat di rumah sakit, sebaik apapun, tetaplah bukan keluarga dalam arti sebenarnya. Ikatan yang terjadi, kalaupun ada, merupakan kategorikal keluarga alternatif. Bell (dalam Suleeman, 2004) mengkategorikan ikatan ini sebagai fictive kin, yakni menganggap seseorang atau kelompok sebagai keluarga. Ikatan ini merupakan alternatif terakhir setelah tidak berfungsinya kerabat dekat (conventional kin) dan kerabat jauh (discretionary kin). Fungsi keluarga kerabat dekat dan kerabat jauh yang cenderung sosial, tampaknya tidak banyak dijumpai dalam bentuk kerabat fiktif.

Film Holmes menggambarkan adanya transisi fungsional kerabat fiktif. Motif ekonomi yang semula berperan besar dalam relasi antara Mr. Homes dan Munro, tampaknya mulai mencair dengan kehadiran sosok anak-anak Roger. Roger yang merupakan pengagum berat Holmes, sekaligus anak dari Munro, menjadi pengikat antara dua orang asing menjadi sebuah keluarga. Holmes bahkan tidak segan-segan mewariskan seluruh hartanya kepada mereka berdua; karena pada akhirnya hanya merekalah keluarganya.

Pada dasarnya, keluarga merupakan entitas penting dalam masyarakat dan sangat mempengaruhi fungsi dan kesejahteraan mental dan fisiologis mereka (Koerner, 2014). Hidup tanpa keluarga hanya akan mengurangi kualitas kesejahteraan mental dan fisiologis seseorang. Seorang tua berumur 93 tahun seperti Mr. Holmes membutuhkan keluarga lebih dari sebelumnya. Eitzen (dalam Soe'oed, 2004) mengatakan bahwa pada saat seseorang menjadi tua, dia harus belajar sebagaimana anak kecil belajar menjadi remaja. Seorang lanjut usia harus belajar bergantung kepada orang lain, belajar untuk tidak terlalu produktif, dan menghabiskan waktu mereka untuk waktu-waktu santai. Proses belajar menjadi orangtua akan terasa sangat berat tanpa adanya keluarga di sisinya. Pada titik inilah pengakuan Holmes bahwa dirinya seorang sosiopat runtuh.

Ada sebuah scene di akhir film yang cukup menggambarkan pentingnya institusi keluarga. Holmes, bersama Roger, duduk di bibir pantai sambil menata beberapa batu (nisan?) membentuk formasi lingkaran. Holmes menyebut beberapa nama, di antaranya Mycroft, Watson, dan Mary. Batu-batu itu merupakan gambaran orang-orang yang semasa hidup bersama-sama Holmes, namun kini mendahuluinya. Batu-batu itu juga menggambarkan bahwa ikatan keluarga dibawa hingga manusia meninggal, adapun warisan yang tertinggal (Munro dan Roger) akan membentuk sebuah entitas keluarga berbeda lagi. Batu-batu itu menjelaskan bahwa dalam perspektif masa lalunya Holmes selalu mengenang keluarga. Kehadiran Roger di tempat itu secara ikonik menunjukkan kepedulian Holmes terhadap transmisi nilai, yang tentu saja merupakan bagian dari perspektif masa depan mengenai identitas keluarga.

Realitas dunia yang kita tinggali saat ini menunjukkan adanya sebuah bonus demografi. Konon katanya, demografi kebanyakan negara (dengan angka harapan hidup yang semakin tinggi) sudah mulai menunjukkan penduduk yang menua. Kategori penduduk usia lanjut akan merupakan sumber masalah apabila tidak ditangani dengan baik. Tidak banyak orang yang mempunyai kecerdasan seperti Holmes. Kebanyakan orang usia lanjut membutuhkan komunikasi keluarga yang humanis, selain tentu saja perlu bantuan lebih dalam menjalani akhir hidupnya. Tindakan akademis dan praktis menghadapi fenomena bonus demografi ini harus secepat mungkin dilakukan.

Foto: heyuguys.com

Referensi:
Koerner, A. F., 2014, Investigasi Ilmiah atas Komunikasi Keluarga dan Pernikahan (D. S. Widowatie, Pen.). Dalam C. R. Berger, M. E. Roloff & D. R. Roskos-Ewoldsen (Ed.), Handbook Ilmu Komunikasi. Bandung: Nusa Media.

Soe'oed, R. D. F., 2004, Proses Sosialisasi. Dalam T. O. Ihromi (Ed.), Bunga Rampai Sosiologi Keluarga. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Suleeman, E., 2004, Hubungan-hubungan dalam Keluarga. Dalam T. O. Ihromi (Ed.), Bunga Rampai Sosiologi Keluarga. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Read More

Feb 2, 2017

Meneliti Keluarga


Keluarga merupakan institusi yang terdekat dengan kita, manusia. Seumur hidup manusia akan selalu bersama keluarga. Saya belum pernah menemukan manusia yang bisa hidup tanpa keluarga, seperti Tarzan misalnya. Bahkan sebenarnya Tarzan pun memiliki keluarga, meskipun gorila.

Sebagai institusi terdekat dengan manusia, meneliti keluarga saya kira sangat penting. Meskipun tentu saja dengan resiko yang cukup besar, sebagaimana saya ceritakan nanti. Yang jelas keluarga itu memiliki kekhasan masing-masing, sehingga ada aspek-aspek yang selalu berbeda antara satu keluarga dengan keluarga lainnya, meskipun mereka berada dalam rumpun keluarga besar yang sama.

Dalam meneliti keluarga, terdapat berbagai perspektif yang bisa diambil. Kalau kita menggunakan perspektif sosiologi misalnya, kita akan cenderung melihat struktur keluarga dan perubahan struktur tersebut seiring dengan perjalanan waktu. Misalnya saja, membandingkan antara struktur keluarga beberapa dekade silam dengan struktur keluarga moderen.

Apabila kita meneliti keluarga dari perspektif ilmu komunikasi, fokus pokoknya tentu adalah interaksi. Karena ilmu komunikasi masih merupakan ‘turunan’ sosiologi, tentu aspek struktur keluarga masih menjadi bagian kajiannya. Jadi, nantinya peneliti komunikasi akan melihat interaksi dalam keluarga yang dikaitkan dengan struktur keluarga tersebut.

Di awal saya mengatakan resiko meneliti keluarga yang cukup besar. Bukannya menakut-nakuti, tapi resiko ini benar adanya. Bayangkan saja, misalnya kita adalah kelompok orang yang akan diteliti keluarganya. Misalnya saja kita adalah pasangan sejenis yang diam-diam menikah, kemudian ada peneliti yang tertarik dengan kita. Pertanyaannya: Apakah kita bersedia berterus terang mengenai relasi dalam keluarga kita? Seringkali jawabannya tidak.

Resiko memasuki dunia keluarga adalah menjadikan peneliti bagian integral dalam keluarga tersebut. Istilahnya menjadi bagian emik atau insider. Butuh ketekunan dan waktu yang lama untuk menjadi bagian dari keluarga.

Sebenarnya sah-sah saja, kita tinggal wawancara atau memberikan kuesioner kepada sebuah atau beberapa keluarga. Namun, tentu saja data yang dihasilkan tidak terjamin valid. Rentan terjadi kebohongan atau usaha menutupi realitas terjadi.

Nah setelah mengetahui resiko dan menariknya meneliti keluarga, masih ada yang berminat? Minat adalah pilihan.

Foto: dakwatuna.com
Read More

Jan 2, 2017

Menggunakan Embed Fonts


Orang yang sering terlibat dalam pembuatan presentasi (menggunakan MS. Powerpoint), dan sering menggunakan berbagai piranti komputer dalam melakukan presentasinya pasti sudah tahu apa itu fasilitas "embedded fonts." Fasilitas ini konon sudah ada di MS. Office sejak lebih dari 10 tahun lalu. Meskipun fasilitas embedded fonts sudah lama ada pada MS. Office, namun tampaknya masih ada sebagian pengguna yang abai. Enak saja mereka mendesain Powerpoint dengan berbagai font, menyimpannya dengan "ctrl + S", lalu dimasukkan USB flashdisk. Pengguna Powerpoint baru ribut ketika membuka berkas Powerpoint-nya di komputer lain, dan menyadari betapa huruf yang tadinya rapi menjadi berantakan.

Setelah diadakan penyelidikan dan penyidikan, ternyata komputer baru yang digunakan oleh pengguna Powerpoint tadi tidak memiliki koleksi font sebanyak komputer yang digunakan mendesain presentasi. Walhasil, font yang digunakan di awal digantikan dengan font yang ada di komputer. Jadilah berantakan.

Nah agar desainnya tidak berantakan, tentu ada cara yang bisa dilakukan oleh pembuat presentasi Powerpoint. Pertama, pembuat presentasi bisa menggunakan font yang standar; artinya font yang dimiliki oleh setiap komputer di dunia. Saya tidak tahu juga font standar komputer dunia itu apa, tapi biasanya di setiap komputer ada font Times New Roman (font standar yang banyak digunakan untuk mengerjakan tugas akhir atau skripsi). Resikonya, Powerpoint yang dibuat menjadi standar saja, alias kurang menarik.

Solusi kedua adalah menggunakan fasilitas embedded fonts, yakni menyertakan font yang digunakan pada proses desain Powerpoint ke dalam file. Tentu saja, dengan adanya font ini ukuran file menjadi sedikit besar. Caranya adalah (Powerpoint 2016) klik File > Option > Save; lalu akan muncul tampilan seperti gambar di bawah ini.


Klik hingga kotak yang saya lingkari merah itu menjadi tercentang. Ada dua pilihan dalam embed fonts, bisa pilih "Embed only the characters used in the presentation," atau "Embed all characters." Apabila ragu-ragu, lebih baik gunakan pilihan yang kedua. Aman!

Kadang-kadang, embed fonts tidak selalu berhasil. Biasanya ketidakberhasilan embed fonts ditandai dengan gambar seperti berikut ini.


Kalaupun kita mencoba klik OK, file Powerpoint memang tersimpan, tapi pada dasarnya font yang bersangkutan tidak tersimpan. Salah satu penyebabnya ternyata font tersebut tidak termasuk TrueType Font. Apa sih TrueType Font?

Menurut Kusrianto dan Adinata (2015), dalam memanfaatkan fitur Office ada tiga jenis font yang perlu diketahui. Pertama, PostScript Font. Disebut juga Type 1, atau Adobe Font yang dibuat menggunakan Postscript page description language. Font ini memiliki dua bagian, yaitu font tampilan layar (Screen Font) dan font untuk pencetakan (Printer Font). Keduanya berfungsi bersamaan. Ketika tampil di monitor, maka yang berfungsi adalah screen font, sedang saat dokumen dicetak, maka yang berfungsi adalah printer font. PostScript font dapat digunakan pada sistem operasi seperti OSX atau Windows. Pada program keluaran Adobe, semua menggunakan Adobe Font maupun Type 1 Font.

Kedua, TrueType Font. Adalah font standar untuk sistem operasi Windows serta produk-produk Microsoft seperti Office, juga program-program under-Windows, kecuali produk Adobe. Awalnya diproduksi oleh Apple, tetapi teknologinya dibeli Microsoft. Sekarang dapat dipergunakan, baik pada sistem OSX maupun Windows. TrueType Font hanya memiliki satu file, baik untuk Screen Font maupun Printer Font. Dalam file tersebut sudah termasuk karakter bold, italic, maupun bold italic, sementara pada postscript, masing-masing tersimpan pada file tersendiri.

Ketiga, OpenType Font. Adalah font jenis terbaru yang dibuat join antara Microsoft dan Adobe. Jenis font ini dapat diperlakukan seperti PostScript Font maupun TrueType Font. Pada program yang berbasis Windows, OpenType Font dianggap sebagai TrueType Font. OpenType dan TrueType hanya terdiri atas satu file yang mewakili tampilan layar maupun untuk dicetak. Demikian juga, dalam sebuah file sudah mengandung 65000 jenis karakter, termasuk bold, italic, expert character set, seperti ligatures, smallcaps, extra accent, pecahan, dan karakter spesial lainnya.

Seperti yang saya katakan sebelumnya, hanya TrueType Font yang dapat disimpan secara embed. Lalu bagaimana membedakan masing-masing jenis font tersebut? Lihat gambar berikut.


Jadi, di depan setiap font yang kita gunakan selalu ada lambang jenis font tersebut.


Jadi, kalau mau menggunakan metode embed font, pilihlah huruf-huruf TrueType Font. Namun bila sangat terpaksa harus menggunakan jenis huruf lainnya, bisa digunakan metode lain; yakni dengan menggunakan tool gratis bernama Text to Outline.

Untuk cara menggunakan tool Text to Outline, lanjutkan dengan mengikuti LINK INI

Gambar: products.office.com, screen capture, fp.um.my, thepowerpointblog.com

Referensi:
Kusrianto, A., & Dinata, Y.M. 2015. Microsoft Word untuk Buku Ajar. Jakarta: ElexMedia Computindo
Read More

Dec 23, 2016

Komunikasi Ibu


Mencermati pemberitaan media massa, semakin banyak perilaku menyimpang, kekerasan, dan kriminalitas yang melibatkan kelompok remaja. Ada berbagai motif yang mendasari perilaku menyimpang remaja tersebut; mulai dari ekonomi, psikologi, hingga ikut-ikutan. Apabila ditelusuri lebih lanjut, sebenarnya ada fenomena sosial lebih rumit yang melatarbelakangi perilaku menyimpang remaja; salah satunya adalah kegagalan fungsi komunikasi keluarga.

Keluarga memberikan pengaruh besar dalam perkembangan kejiwaan manusia. Manusia pertama kali belajar mengenai nilai-nilai kehidupan dari keluarga. Keluarga juga menjadi lembaga kontrol sosial pertama bagi seorang anak. Nilai-nilai yang dipercayai dan dijalani manusia sepanjang hidupnya juga sebagian besar berasal dari keluarga. Pada kenyataannya, pelaku kriminal biasanya juga berasal dari keluarga yang memiliki masalah dalam penanaman nilai-nilai positif.

Kurun 20 tahun terakhir telah banyak yang berubah dalam institusi keluarga. Salah satu faktor pendorong perubahan institusi keluarga adalah keberhasilan Program Keluarga Berencana. Saat ini ukuran keluarga secara umum menjadi semakin kecil, yakni hanya terdiri dari orangtua dengan sedikit anak. Berbeda pada dua dekade sebelumnya, di mana umumnya keluarga memiliki lebih dari 4 anak. Menurut pengamatan Effendi dan Sukamdi (1994) struktur keluarga pun telah mulai bergeser dari keluarga luas (extended family) menjadi keluarga batih (nuclear family), terutama di daerah perkotaan.

Pergeseran struktur keluarga secara logika seharusnya berkorelasi positif dengan kemudahan penanaman nilai-nilai dalam keluarga. Namun kenyataannya tidak sesederhana itu. Apabila kita mengamati pemberitaan media massa, justru seakan menolak hipotesis kemudahan penanaman nilai-nilai dalam keluarga. Pemberitaan media massa semakin riuh dengan realitas kegagalan institusi keluarga dalam menanamkan nilai-nilai positif kepada generasi muda. Kenapa bisa begitu?

Ekonomi dan Karir

Struktur keluarga yang kecil berkorelasi positif dengan perbaikan tingkat ekonomi. Orangtua dengan jumlah anak yang lebih sedikit akan memiliki lebih banyak sisa uang dari penghasilan mereka. Setelah kebutuhan primer terpenuhi, sisa uang tersebut juga digunakan untuk memenuhi kebutuhan sekunder dan tersier. Keluarga modern saat ini tentu sudah biasa dengan keadaan rumah yang dilengkapi dengan kebutuhan primer dan sekunder seperti home theatre, saluran televisi berbayar, internet, hingga kendaraan dan gadget untuk masing-masing penghuni rumah.

Tingkat ekonomi yang semakin baik juga akan membawa kesadaran baru bagi masing-masing anggota keluarga. Seorang ibu yang dahulu lebih banyak berfungsi secara sosial, dengan momong anak di rumah, saat ini sudah memiliki lebih banyak kegiatan di luar rumah. Fungsi momong anak digantikan oleh PAUD, tentu saja dengan mengeluarkan sejumlah uang untuk membayar SPP-nya.

Fungsi sosial ibu lainnya yang sudah banyak bergeser adalah kegiatan perawatan rumah. Saat ini, banyak keluarga modern sudah memiliki asisten rumah tangga untuk kegiatan perawatan rumah. Bahkan, kadangkala lebih dari satu asisten rumah tangga. Apabila anak dari keluarga modern ada yang masih bayi, akan bertambah lagi dengan adanya baby sitter yang 24 jam menjaga bayi mereka.

Pergeseran fungsi sosial ibu, dari domestik ke publik pada akhirnya menurunkan intensitas tatap muka dengan anggota keluarga lainnya. Apabila tatap muka merupakan salah satu indikator terjadinya komunikasi keluarga yang baik, maka dengan berkurangnya intensitas tatap muka akan memperburuk komunikasi keluarga. Muara dari buruknya komunikasi keluarga adalah gagalnya penanaman nilai berbasis keluarga; digantikan dengan nilai-nilai lain yang memiliki intensitas komunikasi lebih tinggi: melalui media, teman sebaya, atau sekolah tempat anak belajar.

Peran Ibu

Beberapa penelitian menempatkan ibu sebagai sosok penting dalam komunikasi keluarga (Kirkman et al., 2005). Anak seringkali lebih terbuka berkomunikasi mengenai sebuah isu sensitif kepada ibu dibandingkan kepada ayah, misalnya saja ketika mereka mendiskusikan masalah seksualitas. Sementara sosok ayah seringkali hanya dilibatkan dalam komunikasi keluarga yang bersifat umum.

Realitas keluarga modern memang menjadi tantangan tersendiri bagi peran komunikasi seorang ibu. Meskipun begitu, ibu tetap harus memiliki kepekaan komunikasi. Biasanya sebuah peristiwa besar, seperti perilaku menyimpang remaja, tidak terjadi secara tiba-tiba. Ada gejala-gejala dini yang bisa diamati, terutama oleh orang terdekat pelaku. Tanpa mengecilkan peran ayah, ibu merupakan sosok yang paling dekat dengan anak.

Sudah saatnya ibu tidak lagi menggantungkan dan mempercayakan komunikasi anaknya terhadap berbagai perangkat media yang ada. Justru ibu harus mewaspadai dan memahami betul resiko setiap fasilitas media yang ada di rumah. Jangan sampai seorang ibu terkesan sudah memenuhi kebutuhan anaknya; dengan menyekolahkan pada sekolah termahal, membelikan gadget tercanggih, memberikan fasilitas internet hingga saluran televisi berbayar, tapi lupa bahwa komunikasi yang paling bermakna adalah tatap muka.

Inilah yang menjadi tugas utama ibu, karena ibu bukan lagi orang nomor dua setelah ayah. Saat ini sosok ibu sudah menjadi kepala komunikasi rumah tangga. Segala inisiatif komunikasi bergantung pada sosok ibu. Selamat hari ibu!

Foto: citizen6.liputan6.com
Read More

Oct 9, 2016

Sehat Jiwa Melalui Komunikasi Keluarga


Tanggal 10 Oktober ini diperingati sebagai Hari Kesehatan Jiwa. Meskipun tidak semeriah hari nasional yang lain, namun penting untuk menjadikan hari ini sebagai momentum evaluasi pembangunan kesehatan secara holistis. Sebagaimana ungkapan bahasa Latin men sana in corpore sano, yang kurang lebih menyatakan pentingnya keseimbangan antara kesehatan jiwa dan kesehatan raga. 

Pada kenyataannya, perhatian terhadap kesehatan jiwa dapat dikatakan masih kurang. Tekanan pekerjaan yang membuat stress, kecenderungan menutup diri, hingga kegalauan karena putus cinta dianggap sesuatu yang biasa saja. Ketika seseorang telah mengidap skizofrenia, barulah ada tindakan yang berarti untuk menanganinya.

Seseorang yang memiliki jiwa sehat biasanya merasa nyaman dengan diri sendiri ataupun orang lain. Ketika ada permasalahan dalam hidup, orang yang jiwanya sehat mampu mengatasi tanpa terlarut terlalu dalam. Sebaliknya, orang-orang yang mengalami gangguan jiwa biasanya selalu dihantui masalah dalam kehidupannya. Bahkan gangguan jiwa ini menurut Freud dapat mengakibatkan simptom fisik seperti gangguan kerja jantung, nyeri kepala, atau mungkin gangguan tidur.

Peran Komunikasi Keluarga

Tidak ada yang dapat menafikan peran keluarga dalam kehidupan manusia. Termasuk di dalam peranan keluarga adalah terhadap orang dengan gangguan jiwa. Beberapa penelitian menyatakan betapa keluarga memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan jiwa seseorang. Penelitian Santosa (1992) misalnya mengatakan bahwa kecenderungan neurotik remaja berhubungan dengan ukuran keluarganya. Remaja yang memiliki keluarga besar cenderung memiliki kecenderungan penyakit neurotik dibanding mereka yang berasal dari keluarga kecil. Hal ini disebabkan oleh pola komunikasi yang ditengarai berbeda antara keluarga besar dan keluarga kecil. Keluarga besar diindikasikan seringkali melakukan komunikasi yang bersifat otoriter demi mencegah terjadinya kekacauan yang ditimbulkan oleh banyaknya sistem interaksi di dalam keluarga.

Penelitian lain yang melihat peranan keluarga dalam kesehatan jiwa seseorang dilakukan juga oleh Hidayat et al. (1996). Menurut penelitian ini kepencemasan sosial anak tumbuh melalui proses belajar kognitif sosial. Faktor-faktor yang menjadi sumber adalah kepencemasan sosial orang tua, praktek pengasuhan, dan keharmonisan keluarga. Dengan kata lain, ada faktor kurangnya komunikasi dalam keluarga yang berperan dalam munculnya kepencemasan sosial anak.

Menilik dua penelitian tersebut di atas, menjadi penting mewujudkan pelibatan keluarga dalam proses pencegahan maupun penanganan gangguan jiwa. Pada proses pencegahan gangguan jiwa, pelibatan keluarga dapat diwujudkan melalui promosi kesehatan. Promosi kesehatan ternyata dapat menjadi pembeda dalam peningkatan pengetahuan dan sikap tentang deteksi sakit jiwa (lihat Susanto et al., 2006). Penting juga diberikan pengertian mengenai gejala dini sakit jiwa, serta bagaimana penanganan awal dalam lingkungan keluarga, serta pola komunikasi yang dapat dilakukan untuk mencegah penyakit yang lebih parah. Untuk penanganan gangguan jiwa, keluarga hendaknya memahami bagaimana penanganan pasien dengan gangguan jiwa berat. Alih-alih dipasung, pasien yang mengalami gangguan jiwa berat sebaiknya dirujuk pada rumah sakit terdekat sehingga mendapatkan penanganan yang memadai. Tata urutan penanganan hingga pasien sakit jiwa sampai di rumah sakit tidak mungkin dilakukan apabila tidak dipahami prosedurnya oleh keluarga pasien. Sekali lagi, komunikasi keluarga yang baik sangat dibutuhkan untuk menjalin kesepahaman dalam penanganan pasien yang mengalami sakit jiwa berat.

Komunikasi Keluarga Sehat, Jiwa Sehat


Secanggih apapun teknologi komunikasi dan informasi, tetap tidak dapat menggantikan komunikasi tatap muka. Pun demikian halnya dengan komunikasi tatap muka dalam keluarga, tidak dapat tergantikan oleh teknologi apapun. Menjadi penting bagi anggota keluarga untuk menciptakan situasi komunikasi tatap muka yang nyaman. Seketika ada permasalahan, anggota keluarga dapat mengomunikasikannya. Sehingga, saat ada salah satu anggota keluarga yang terkena penyakit jiwa, dapat segera dideteksi secara dini.

Kunci komunikasi keluarga yang sehat salah satunya adalah budaya menghargai (lihat Andayani, 2002). Termasuk di dalamnya adalah ungkapan-ungkapan ekspresif terhadap hal-hal baik yang dilakukan anggota keluarga. Akhirnya, muara dari peringatan Hari Kesehatan Jiwa adalah semangat untuk menjadikan keluarga sebagai tempat berangkat serta tempat kembali bagi anggota keluarganya. Sehingga, tidak ada lagi pasien sakit jiwa yang gagal dideteksi secara dini atau mendapat perlakuan salah dalam proses penanganan serta penyembuhannya. Semoga.

Referensi:

Andayani, B. (2002). Pentingnya Budaya Menghargai dalam Keluarga. Buletin Psikologi, 10(1), 1-8.

Hidayat, R., Santoso, S. W., & Indati, A. (1996). Anteseden Perkembangan Diri Kepencemasan Sosial. Jurnal Psikologi, 23(1), 21-32. doi: 10.22146/jpsi.10039

Santosa, T. (1992). Pengaruh Keluarga Besar terhadap Perkembangan Kecenderungan Neurotik pada Remaja. Berita kedokteran masyarakat, 8(2), 89-94.

Susanto, J., Prabandari, Y. S., & Sumarni. (2006). Promosi Kesehatan pada Keluarga Penderita dalam Deteksi Awal Kekambuhan Skizofrenia Pascapengobatan. Berita kedokteran masyarakat, 22(2), 61-67.

Foto: dy0719.com

Read More

Jul 29, 2016

Media Tidak Pernah Netral?


Reshuffle kabinet yang terjadi saat ini menarik disimak. Bagi saya yang menarik bukan hanya pada jumlah posisi rotasi menteri yang cukup banyak, atau mengapa tidak ada menteri perempuan yang diganti. Namun yang menarik adalah digantinya sosok menteri ESDM, Pak Sudirman Said, oleh Pak Arcandra Tahar.

Pergantian Pak Menteri Sudirman Said ini entah kenapa mengingatkan saya pada kejadian beberapa bulan lalu yang sempat menghebohkan Indonesia, yakni kasus “Papa Minta Saham”. Waktu itu, bersama Pak Ma’roef Sjamsuddin, Pak Sudirman Said menjadi saksi pencatutan nama presiden untuk meminta bagian saham dari PT. Freeport. Tersangkanya adalah Pak Setya Novanto, Ketua DPR yang berasal dari Partai Golkar. Diindikasikan ada pelanggaran kode etik sebagai ketua dewan yang turut campur dalam perbaruan kontrak PT. Freeport yang konon akan jatuh tempo pada tahun-tahun ini.

Kehebohan kasus “Papa Minta Saham” mencapai klimaksnya ketika sidang kode etik yang dilakukan oleh MKD (Mahkamah Kehormatan Dewan) disiarkan secara langsung melalui televisi parlemen dan direlay oleh banyak stasiun televisi swasta. Sebenarnya ada beberapa sidang yang dilakukan oleh MKD, namun yang kebetulan saya tonton adalah ketika Pak Sudirman dan Pak Ma’roef menjadi saksi (seingat saya sidang Pak Novanto tidak disiarkan secara langsung).

Ketika menonton siaran langsung sidang itulah saya merasakan ada keberpihakan oleh beberapa stasiun televisi yang menyiarkan langsung acara tersebut. Misalnya saja, stasiun televisi A yang cenderung memilih narasumber pendukung partai Pak Novanto. Sebaliknya, stasiun televisi B memilih para pendukung oposannya. Tidak hanya itu, diksi yang dipilih oleh para anchor pun seakan menguatkan keberpihakan stasiun televisi terhadap salah satu pihak. Saya sebagai penonton merasa digiring untuk menghakimi seseorang. Hal ini ternyata ditemukan juga jauh-jauh hari sebelumnya dalam sebuah penelitian yang melihat salah satu stasiun televisi berita nasional yang seringkali menunjukkan sikap keberpihakan, dengan menggunakan banyak variasi kosakata dan metafora dalam pemberitaannya (Agung : 2010). Sepertinya adagium yang selama ini saya ketahui bahwa media tidak pernah netral benar adanya.

Sebenarnya apa sih maksud media menggiring khalayaknya pada perspektif tertentu? Banyak kajian yang dapat digunakan untuk menebak tujuan media. Bisa jadi ini berkaitan dengan apa yang dikenal dalam kajian komunikasi sebagai ‘agenda setting”. Media, dengan segenap ideologinya, berkepentingan untuk mengarahkan khalayak agar mereka berpikir dan bertindak sebagaimana yang dikehendaki. Kurt Lang dan Gladys Engel Lang (dalam Tamburaka: 2012) mengatakan bahwa : “Media masa memaksakan perhatian pada isu-isu tertentu. Media massa membangun citra publik tentang figur-figur politik. Media massa secara konstan menunjukkan apa yang hendaknya dipertimbangkan, diketahui, dan dirasakan individu-individu dalam masyarakat.” Oleh karena itu, dapat diambil kesimpulan bahwa: (1) masyarakat pers dan media tidak mencerminkan kenyataan, mereka menyaring dan membentuk isu; dan (2) konsentrasi media massa hanya pada beberapa masalah masyarakat untuk ditayangkan sebagai isu-isu yang lebih penting daripada isu-isu lain.

Para peneliti komunikasi mengenal berbagai macam perspektif discourse untuk meneliti fenomena seperti yang saya ceritakan itu, seperti pendekatan Derrida dengan “deconstruction”, Michel Foucault dengan “genealogy and social criticism”, Frederic Jameson dengan analisis Marxist, hingga Julia Kristeva dengan interpretasi feminis (Ida: 2014). Agung (2010) misalnya, menebak besarnya kepentingan pasar dalam penayangan sebuah wacana berita dibanding kualitas persyaratan berita itu sendiri. Peneliti komunikasi lainnya mungkin akan mendapati hasil lain sesuai perspektif wacana yang digunakannya.

Kembali pada kasus “Papa Minta Saham”, saya kebetulan mengabadikan tiga gambar dari siaran langsung sidang MKD. Tiga gambar tersebut saya dapatkan dari siaran TV One, MetroTV, dan KompasTV. Memang ketiga stasiun televisi ini termasuk yang menjadi rujukan pemberitaan di Indonesia. Dua stasiun televisi pertama yang saya sebutkan, seringkali sekali berseberangan pandangan. Saya mengamati perbedaan pandangan ini sejak zaman Pilpres pada tahun 2014 yang lalu. Ternyata ketika wacana yang menarik perhatian publik seperti kasus “Papa Minta Saham” terjadi, kedua stasiun televisi ini juga terlihat berseberangan lagi.

Berikut ini beberapa gambar yang saya dapatkan melalui kamera ponsel saya (maaf kalau buram ya).


Pertama adalah gambar yang saya foto dari siaran langsung di TV One. Judul yang dipilih adalah: Menguji Kesaksian Sudirman. Kesan yang saya dapatkan dari judul ini adalah bahwa kesaksian Pak Sudirman perlu diuji karena bisa benar atau salah. Kalau diamati running text di bagian bawah (warna merah) bertuliskan “Sudirman akui dekat dengan Freeport Indonesia”. Saya merasa seakan digiring untuk memiliki persepsi bahwa Sudirman bersalah karena dekat dengan Freeport (yang memiliki citra buruk di sebagian kalangan masyarakat Indonesia seperti saya, karena cerita yang beredar mengenai pengerukan terhadap sumber daya alam di Papua).


Kedua, gambar dari siaran langsung MetroTV yang memilih judul “Mengadili Etika Novanto”. Stasiun televisi berita ini tampak berkebalikan dengan TV One. Saya mendapatkan kesan bahwa saksi, Pak Sudirman dan Pak Ma’roef, sudah hampir pasti benar. Yang salah di sini adalah Pak Novanto, Ketua DPR. Sehingga perlu diadili etikanya, karena mendekati komisaris PT. Freeport untuk meminta bagian saham.



Gambar ini adalah judul yang dipilih oleh Kompas TV: Kesaksian Sudirman di MKD. Saya melihat judul ini lebih bersifat deskriptif (alih-alih mengatakan lebih netral) dibandingkan kedua televisi sebelumnya. Entah bagaimana dengan pemirsa yang lain, judul seperti ini seakan mengatakan bagaimana stasiun televisi yang dimiliki oleh Kompas-Gramedia grup ini sedang membangun kredibilitasnya. Jadi jangan salahkan saya kalau pada akhirnya lebih sering menonton televisi ini dibandingkan televisi berita yang lain, hehehe.

Setelah semua kejadian yang sempat menjadi pembicaraan hangat di masyarakat (bahkan sampai-sampai ada yang mengedarkan transkrip pembicaraan antara Pak Setya Novanto dan Pak Ma’roef), Pak Soedirman akhirnya harus mengepak barang-barangnya di kantor Kementerian ESDM. Entah, apakah reshuffle ini berkaitan dengan gaduh kasus “Papa Minta Saham” atau tidak.


Referensi:
Agung, M. (2010). Kendali Pasar dalam Pemberitaan di Televisi Swasta Nasional. Jurnal Konvergensi: Vol. 1 No. 1 pp. 41-46
Tamburaka, A. (2012). Agenda Setting Media Massa. Jakarta: Rajawali Pers
Ida, R. (2014). Studi Media dan Kajian Budaya. Jakarta: Prenada Media Group

Kredit foto: stanfordflipside.com dan koleksi pribadi
Read More

Jun 23, 2016

Fenomenologi Heidegger

Filsafat ibarat rumah, ia terdiri dari kamar-kamar yang terkunci rapat. Paling tidak, ada tiga kamar besar di rumah itu. Kamar pengetahuan, nilai, dan “ada” (metafisika/ontologi). Masing-masing kamar itu memiliki subkamar sendiri-sendiri, bahkan ada lagi kamar yang lebih kecil di dalamnya.

Dapat dibayangkan betapa luasnya rumah filsafat itu. Sedemikian luasnya hingga tidak semua filsuf sempat menjelajahi seluruh kamar. Meskipun demikian, ada beberapa filsuf yang mampu mendiami beberapa kamar sekaligus, yakni menguasai beberapa tema filsafat. Namun ada pula filsuf yang hanya berkonsentrasi pada satu tema filsafat.

Filsafat fenomenologi merupakan satu subkamar, atau bahkan mungkin kamar yang lebih kecil lagi, dalam naungan kamar besar “ada”. Apabila kita memelajari kajian filsafat fenomenologi ini, mau tidak mau pasti akan menyebut sebuah nama, Martin Heidegger, setara dengan nama-nama besar lain dalam kamar filsafat Fenomenologi. Hal ini karena gagasan-gagasannya yang menggetarkan filsafat Barat, getaran yang konon katanya hanya bisa ditandingi oleh sang filsuf godam: Nietzsche.



Meskipun Heidegger sedemikian terkenalnya, ternyata pemikirannya laksana rimba belantara: gelap, suram, dan rumit. Wajar saja kalau kemudian Heidegger pada akhirnya berkenalan dan mendiami salah satu subkamar rumah filsafat dengan modus berpikir paling rumit di jagat ini: filsafat fenomenologi.

Fenomenologi memandang dunia manusia bukan semata sebagai dunia pengamatan, melainkan yang paling primordial: dunia penghayatan (labenswelt). Dunia penghayatan berbeda dengan dunia pengamatan yang menjadi basis sains. Dunia penghayatan adalah cikal bakal dunia pengamatan yang dilupakan. Kelupaan yang menurut Edmund Husserl (tokoh fenomenologi sebelum Heidegger) telah menimbulkan krisis ilmu pengetahuan. Pengalaman manusia yang sangat purwa-rupa, dalam dunia pengamatan diabstraksi habis dalam formula-formula kering. Pada akhirnya abstraksi kering tersebut juga membuat miskinnya pemahaman tentang “ada” atau being.

Heidegger mengingatkan kelalaian filsafat Barat dalam melakukan “pembedaan ontologis” antara “Ada” (Sein) dan “mengada” (Seiendes). Filsafat Barat ketika itu menafsirkan “Ada” yang sama dengan “mengada”. Rumah, jalan, dan pohon, misalnya, semuanya “ada”. Namun “Ada” bukanlah semata-mata rumah, jalan, atau pohon. “Ada” adalah sesuatu yang melampaui sekaligus menyelubungi “mengada”. Sein dan seiendes inilah yang menjadi persoalan antara manusia sebagai sesuatu yang otentik dan manusia sebagai yang inotentik. Manusia yang otentik selalu mencari alasan eksistensialnya, sementara manusia otentik seringkali puas dengan eksistensinya saat ini.

Kelalaian filsafat Barat mengenai pemisahan dua konsep ontologis tersebut berakibat fatal. Pertanyaan filsafat Barat sebelumnya selalu berbasiskan asumsi tentang “ada” sebagai benda-benda deskriptif. Padahal “Ada”, dengan “a” besar, bagi Heidegger lebih agung dari itu. Pertanyaan filsafat harusnya dikonsentrasikan pada “Ada” yang agung itu. “Ada” yang menuntut perubahan pertanyaan filosofis. “Ada” yang tidak bisa direduksi menjadi benda-benda. Pertanyaan tentang “Ada” harus dibedakan dengan sekedar pertanyaan tentang “apa itu komputer?”, misalnya. Pertanyaan tentang “Ada” ini pada akhirnya hanya dapat melihat bunga mawar merah tidak sekedar onggokan definisi biologis, namun dapat juga bermakna romantis.

Jika “Ada” tidak memiliki sifat kebendaan, lalu bagaimana mencari tahu apa “Ada” itu sesungguhnya? Heidegger menawarkan untuk memulai dari satu-satunya sosok yang mempersoalkan “Ada”: manusia. Karena manusia bukan benda, maka Heidegger memilih istilah dasein. Dalam bahasa Jerman “Da” berarti di sana (ruang waktu), dan “Sein” yang berarti ada. Sehingga dasein berarti “ada di sana (ruang waktu)”. Manusia selalu merupakan “ada” yang menemukan dirinya terjebak dalam ruang waktu tertentu.

Secara tidak langsung, Heidegger menunjukkan lewat sebuah analisis yang panjang, pelan-pelan, dan seringkali sederhana, bahwa apa yang tampaknya merupakan pengalaman yang uniter (menyatukan) itu mestilah kenyataannya mengandung sejumlah isi yang bisa dipilah-pilah.

Yang pertama, agar muncul kesadaran akan sesuatu, maka harus ada sesuatu yang ditangkap sebagai sedang berlangsung; harus ada bidang aktivitas dan bidang kejadian betapa pun kaburnya, entah itu bersifat inderawi, mental, emosional, imajinasi, fisik, atau lainnya. Harus ada rasa (sense), betapa pun terbatas dan primitifnya, akan adanya bidang kejadian, sebuah “dunia” kesadaran, meski itu mungkin sekadar sebuah layar yang bersifat mental (mental screen). Dalam artian ini, “keduniaan” (worldishness) merupakan bahan yang niscaya bagi adanya kesadaran. Yang kedua, agar sesuatu itu terasa sedang berlangsung, maka harus ada dimensi waktu. Keberlangsungan (ongoingness) macam apa pun tak akan mungkin tanpa adanya waktu, meski hal ini berarti membuka pertanyaan mengenai apa waktu itu. Yang ketiga, agar kita bisa menyadari sesuatu , sesuatu itu harus membentuk pengalaman. Secara singkat, ada tiga bahan yang niscaya agar sebuah kesadaran (ada yang diinsafi) bisa muncul: yaitu keduniaan, waktu, dan keterlibatan.

Hidup terus berlanjut, demikian juga pemikiran Heidegger. Keyakinan dalam memahami makna ada lewat manusia yang disebutnya Dasein, lambat laun berubah, dan terjadilah die Kehre, pembalikan dalam pemikiran Heidegger. Di dalam usia tuanya Heidegger menulis buku Beitrage zur Philosophie (Vom Ereignis) (Kontribusi-kontribusi untuk Filsafat [Tentang Peristiwa], 1936-1937), salah satu buku penting yang menandai apa yang disebut die Kehre itu. Di situ dia berpikir bahwa Ada dapat ditangkap tanpa perantaraan manusia, karena Ada itu tidak tersembunyi dan membuka diri. Pemikiran yang misterius lagi.

Bagaimanapun Heidegger adalah manusia. Sesuai perkataannya sendiri: “Dia yang memikirkan pemikiran-pemikiran besar sering membuat kekeliruan-kekeliruan besar”. Selain sebagai salah satu metafisikus besar abad ke-20, Heidegger juga terlibat Nazi, dan berselingkuh dengan salah satu mahasiswinya, Hannah Arendt. Pertanyaan-pertanyaan filosofis mengenai ada selalu dijawab dengan penjelasan yang panjang lebar oleh Heidegger, namun dia selalu bungkam ketika ditanya dua “kesalahan” yang dilakukannya dalam hidup tersebut. Bungkam hingga Heidegger wafat.

Referensi:
Adian, D.G. (2002). Martin Heidegger: Seri Tokoh Filsafat. Jakarta: Penerbit Teraju
Hardiman, F.B. (2016). Heidegger dan Para Pensiunan. Dalam F.B. Hardiman (Ed.), Filsafat untuk Para Profesional (pp. 201-216). Jakarta: Penerbit Buku Kompas
Kuswarno, E. (2009). Metodologi Penelitian Komunikasi Fenomenologi: Konsepsi, Pedoman, dan Contoh Penelitiannya. Bandung: Widya Padjadjaran
Magee, B. (2005). Memoar Seorang Filosof: Pengembaraan di Belantara Filsafat. (Eko Prasetyo, Pen.) Bandung: Penerbit Mizan

Foto: www.pinterest.com
Read More